Jumat, 22 Mei 2026, pukul : 16:10 WIB
Surabaya
--°C

Final Four Proliga 2026: Surabaya Samator: Melawan Arus Kemewahan, Merawat Kemurnian Regenerasi

SURABAYA – KEMPALAN: Di tengah hiruk-pikuk Proliga 2026, di mana klub-klub raksasa seperti Jakarta Bhayangkara Presisi, Jakarta LaVani, dan Garuda Jaya saling pamer kekuatan finansial dengan mendatangkan bintang berlabel timnas dan pemain asing mahal, sebuah sikap kontras ditunjukkan oleh Surabaya Samator pada final four Proliga 2026 di GOR Jawa Pos Arena Surabaya 2-5 April 2026.
Tim legendaris milik perusahaan produsen gas ini memilih jalan sunyi. Alih-alih larut dalam euforia belanja pemain mewah, Samator justru tampil dengan wajah-wajah muda. Mereka seolah memegang teguh prinsip “nrimo ing pandum”—menerima dan memaksimalkan apa yang ada di tangan, yakni bibit muda hasil binaan sendiri.
Salah satu permata muda yang menjadi simbol keberanian regenerasi ini adalah Rama Faza Fauzan. Pemain kelahiran 9 September 2002 ini kini memikul tanggung jawab besar sebagai tumpuan serangan tim. Memiliki postur menjulang 194 cm, opposite hitter yang dikenal dengan lompatan vertikalnya yang eksplosif ini bukan sekadar pelengkap.
Rama adalah produk asli kawah candradimuka Samator yang telah ditempa sejak level junior. Sebelum naik kelas ke tim utama Proliga, ia telah mengasah mentalitas juaranya di berbagai ajang nasional seperti Livoli. Kehadiran Rama di lapangan memberikan warna tersendiri; ia merepresentasikan DNA Samator yang tenang namun mematikan saat melakukan spike tajam ke area lawan.
Manajer Surabaya Samator, Hadi Sampurno, menegaskan bahwa mengandalkan pemain seperti Rama bukanlah bentuk kepasrahan, melainkan strategi jangka panjang yang terukur. Ia mengaku sengaja menarik diri dari perlombaan membangun “tim bertabur bintang”.
“Kami memilih jalur regenerasi. Kami tidak ingin sekadar instan mengejar gelar tapi melupakan akar,” ujar Hadi Sampurno saat ditemui di sela persiapan tim.
Menurut Hadi, memaksakan pemain matang dari luar hanya akan menghambat proses tumbuh kembang talenta internal seperti Rama Faza dan kawan-kawan. Ia ingin timnya berkembang secara organik tanpa intervensi yang bisa merusak mentalitas pemain muda.
“Kami yakin dengan regenerasi yang mendalam, hasilnya akan dipanen dua atau tiga tahun ke depan. Saya tidak ingin regenerasi ini terkontaminasi oleh hal-hal yang mengurangi kemurnian prosesnya. Lebih baik matang tepat pada waktunya, daripada dipaksa matang sebelum waktunya,” tambahnya dengan nada optimis.
Langkah berani ini memang berisiko secara hasil jangka pendek. Namun, menghadapi babak Final Four, Hadi tetap memancarkan keyakinan tinggi. Meski mengandalkan “daun muda”, ia percaya mentalitas juara yang tertanam di DNA Samator akan menjadi pembeda di lapangan.
Eksperimen Surabaya Samator di Proliga 2026 ini menjadi antitesis dari tren klub modern saat ini. Di saat yang lain membeli kesuksesan, Samator memilih untuk merawatnya dari bawah melalui tangan dingin para pemain mudanya. Publik voli tanah air kini menanti, apakah “investasi kesabaran” pada talenta seperti Rama Faza ini akan kembali melahirkan legenda baru di masa depan?(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)

BACA JUGA  Khofifah Tinjau Cek Kesehatan Gratis Driver Gojek, Tes HPV DNA Ikut Digratiskan
forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.