Rabu, 22 April 2026, pukul : 02:13 WIB
Surabaya
--°C

Harmoni Lebaran di Atas Rumput Hijau: Saat Unesa FC dan Jurnalis Memilih ‘Lapangan Hijau’ Ketimbang ‘Meja Hijau’


SURABAYA –KEMPALAN:  Momen Idulfitri biasanya identik dengan jamuan makan formal di dalam ruangan. Namun, Unesa FC dan Academy Unesa memilih cara yang lebih maskulin sekaligus elegan dalam merajut silaturahmi. Bertempat di Stadion Unesa Kampus 2 Lidah Wetan, para punggawa kampus “Satu Langkah di Depan” ini menggelar Halal bi Halal bertajuk Friendly Match melawan komunitas wartawan Pokja Judes (Jurnalis Dewan Surabaya).

Bukan sekadar mengejar skor, laga ini menjadi simbol resolusi konflik yang sportif. Diperkuat oleh jajaran elite universitas, mulai Wakil Rektor IV Prof. Dr. Dwi Cahyo Kartiko, M.Kes., dan Direktur Lab School sekaligus Penanggung Jawab Unesa FC, Prof. Dr. Sudjarwanto, para dosen dan Tenaga Pendidik(Tendik) pertandingan berlangsung dalam atmosfer penuh keakraban namun tetap kompetitif.

Filosofi Lapangan Hijau


Prof. Dr. Sudjarwanto menegaskan bahwa sepak bola bukan sekadar olahraga fisik, melainkan instrumen diplomasi yang paling jujur.

“Sepak bola itu adalah alat pemersatu bangsa, termasuk kita semua yang ada di sini. Di lapangan, perbedaan jabatan dan profesi lebur dalam semangat kerja sama,” ujar Prof. Sudjarwanto di sela-sela pertandingan.

Senada dengan hal tersebut, Warek IV Prof. Dr. Dwi Cahyo Kartiko menyoroti sisi integritas dari olahraga ini. Menurutnya, jika ada kesalahpahaman antarpihak, lapangan hijau adalah tempat terbaik untuk menyelesaikannya secara ksatria.

“Olahraga ini memiliki sportivitas yang tinggi. Sebagai orang lapangan, jika ada permasalahan, lebih elegan diselesaikan di lapangan saat itu juga. Apalagi ada wasit sebagai pengadil. Jadi, kita selesaikan di ‘lapangan hijau’, bukan di ‘meja hijau’,” tegas Prof. Cahyo dengan nada diplomatis.

Aturan ‘Sak Kesele’ dan Spirit Tanpa Batas

Uniknya, laga ini tidak mengikuti standart FIFA 2×45 menit. Mengusung konsep fun football, durasi waktu ditentukan oleh stamina alias “sak kesele” (sampai lelah), dengan pergantian pemain tanpa batas. Hal ini memungkinkan setiap staf tendik Unesa dan anggota Pokja Judes merasakan atmosfer pertandingan tanpa tekanan.

Sidik Prasetyo, perwakilan dari Judes FC, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif Unesa FC. Ia menilai kolaborasi ini adalah bentuk sinergi strategis antara akademisi dan media.

“Ini adalah halal bi halal paling bertenaga yang pernah kami ikuti. Bagi kami di Judes FC, Unesa bukan sekadar mitra narasumber, tapi kawan satu tim. Di lapangan kita bisa saling jegal secara sportif, tapi setelah peluit panjang berbunyi, semua kembali nol-nol alias murni saling memaafkan,” ungkap wartawan Olahraga Senior.
Laga ini membuktikan bahwa Unesa FC dan Academy Unesa tidak hanya mencetak atlet dan akademisi, tetapi juga mempraktikkan “Sport Diplomacy”. Di saat isu hukum seringkali kaku, Unesa menawarkan perspektif bahwa komunikasi yang mampet bisa dicairkan melalui operan bola dan keringat yang mengucur bersama di lapangan.(Ambari Taufiq/M Fasichullisan)


forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.