Rabu, 22 April 2026, pukul : 07:13 WIB
Surabaya
--°C

Ijazah (Palsu) Jokowi dan Streisand Effect


Oleh: Dhimam Abror Djuraid

KEMPALAN: Semakin dirahasiakan dan ditutup-tutupi semakin banyak orang yang “kepo”, ingin tahu. Itulah yang terjadi dengan kasus ijazah Jokowi dari UGM (Universitas Gadjah Mada). Semakin lama bukan semakin jelas, malah semakin kabur.

Secara alamiah manusia punya curiousity, rasa ingin tahu yang tinggi. Secara alamiah juga manusia selalu ingin tahu sesuatu yang dirahasiakan. Cobalah bikin eksperimen sederhana. Tempelkan tanda ‘’Dilarang Masuk, Banyak Rahasia’’ di sebuah pintu. Maka akan banyak orang yang berusaha mengintip apa yang ada di balik pintu itu.

Kasus ijazah Jokowi ibarat tanda dilarang masuk di sebuah pintu. Sekarang semakin banyak orang yang terlibat, tetapi masalahnya menjadi makin ruwet. Ada pemain-pemain baru yang muncul yang menjadikan permainan ini semakin riuh rendah.

Yang terjadi dalam kasus ini adalah efek berantai dari sebuah informasi yang ditutup dan dirahasiakan. Permasalahan yang sebenarnya sederhana sekarang berkembang menjadi rumit dan berliku-liku.

Semakin ditutupi semakin banyak yang ingin tahu. Itulah yang disebut sebagai ‘’Streisand Effect’’. Ini menjadi fenomena paradoks di era digital. Akses informasi di era digital makin mudah, dan semakin banyak publik yang bisa mengaksesnya.

Streisand Effect mengacu pada upaya untuk menyensor, menyembunyikan atau mengalihkan perhatian publik pada sesuatu yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang. Alih-alih bisa menutupi informasi itu, upaya tersebut justru menjadi bumerang yang menyebabkan lebih banyak perhatian terhadap informasi yang berusaha disembunyikan itu.

Publik memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, termasuk mereka cenderung ingin menilai sendiri persoalan tersebut. Ketika hal ini bercampur dengan fenomena FOMO (fears of missing out) rasa takut ketinggalan informasi, merasa ada sesuatu yang disembunyikan, atau terdapat pihak bertindak berlebihan terhadap sesuatu, hal ini dapat menyebabkan orang lain bereaksi. Kombinasi ini ditambah dengan ketidaksukaan alami orang-orang terhadap penyensoran pada sebuah hal.

Istilah Streisand Effect berasal dari kisah penyanyi sekaligus aktris Amerika Serikat, Barbra Streisand yang menggugat seorang fotografer pada 2003 lalu. Anda yang cukup senior tahu penyanyi ini melalui lagu hit ‘’Woman In Love’’. Kehidupan pribadinya dan hubungan asmaranya dengan Robert Redford seperti kisah fairytale di dunia dongeng.

Gugatan Streisand ini diajukan terhadap fotografer Kenneth Adelman pendiri California Coastal Records Project. Adelman memotret garis pantai California dari helikopter dan mengunggah fotonya ke Internet.

Adelman mengindikasikan bahwa gambar-gambar tersebut gratis untuk penggunaan nirlaba dan telah digunakan oleh lembaga pemerintah dalam tujuan penelitian ilmiah. Di antara lebih dari 12.000 foto pantai California hasil jepretan Adelman, terdapat satu foto yang menampilkan rumah besar milik Streisand. Streisand yang punya pengalaman di masa lalu pernah dilecehkan dan dikuntit oleh penggemar, akhirnya menggugat Adelman sebesar 50 juta dollar AS (sekitar Rp 750 miliar).

mengeklaim bahwa foto tersebut melanggar privasinya dan menunjukkan cara mengakses kediamannya. Saat gugatan diajukan, foto tersebut baru diunduh enam kali, termasuk dua kali oleh pengacara Streisand. Gugatan tersebut dipublikasikan secara luas, dengan diikuti dengan banyaknya minat dan aktivitas orang-orang untuk mencari tahu.

Sebulan setelah pengajuan gugatan, foto tersebut justru telah dilihat lebih dari 400.000 kali dan diunggah ulang di situs berita dan tempat lain di Internet. Oleh karena itu, upaya Streisand untuk menyembunyikan foto tersebut membuatnya menjadi lebih terekspos dibandingkan sebelumnya. Streisand pun kalah dalam gugatannya dan diperintahkan untuk membayar biaya hukum Adelman untuk kasus tersebut. Foto tersebut juga masih dipublikasikan secara luas di Internet.

Streisand Effect ini sekarang terjadi pada kasus ijazah Jokowi. Ia mengundang wartawan dan memamerkan ijazahnya, tetapi jurnalis tidak boleh mengambil foto. Bukannya menjadikan masalah klir tapi Jokowi sengaja menyulut rasa ingin tahu yang semakin besar. Ibarat lagu koplo ‘’bukak sitik joss…’’, Jokowi membuka sedikit dan semakin membuat publik kepo.

Jokowi keukeuh tidak mau menunjukkan ijazahnya. UGM juga keukeuh dengan keputusannya bahwa Jokowi sudah menyelesaikan seluruh tugas tri darma perguruan tinggi, dan sudah menerima ijazahnya.

Para pemburu ijazah palsu Jokowi tetap tidak percaya. Mereka meyakini ada konspirasi antara Jokowi dengan UGM. Pertemuan para pemburu ijazah palsu dengan pihak UGM tidak menyelesaikan masalah, malah sebaliknya makin membuat ruwet.

Dengan sikap Jokowi yang ‘’bukak sitihik joss’’ dan UGM yang tidak terbuka, plus para pemburu yang pantang mundur, maka terjadi skenario permainan yang makin kompleks.

Ada teori permainan atau Game Theory yang bisa menjelaskan fenomena ini. Dalam teori permainan ini pihak pemburu ijazah palsu akan menerapkan strategi zero sum game. Tidak ada tawar-menawar, tidak ada kompromi. Mereka yakin seyakin-yakinnya bahwa ijazah Jokowi palsu.

Kalau kita asumsikan bahwa para pemburu ijazah palsu ini benar, maka game theory beralih kepada UGM dan Jokowi. Kalau kita asumsikan bahwa UGM dan Jokowi bersalah, maka sekarang dua pihak itu sedang terlibat dalam prisoners dilemma.

Pilihan yang dihadapi UGM adalah mengaku salah dan ‘’mendapat hukuman yang lebih ringan’’. Atau sebaliknya, jika Jokowi mengaku salah maka hukumannya lebih ringan ketimbang hukuman yang harus ditanggung oleh UGM.

Kasus ijazah Jokowi kelihatannya belum akan selesai dalam waktu dekat. Bisa jadi Jokowi sengaja ‘’mengelola’’ konflik ini supaya namanya tetap ‘’floating’’ , mengambang dan terus menjadi pembicaraan publik.(DAD)

Editor: Izzat

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.