KEMPALAN: Berbicara musikalisasi puisi, bukan berarti hanya menempelkan musik dalam sebuah pembacaan puisi begitu saja, akan tetapi ada unsur interpretasi (penafsiran) puisi, musik yang mengiringi, dan penampilan para pemainnya haruslah punya harmonisasi (keterpaduan) antarsesamanya.
Menurut buku Mendaki Gunung Puisi karya Tengsoe Tjahjono, dikatakan bahwa musikalisasi puisi sejatinya upaya menguatkan potensi musik yang sudah ada dalam puisi itu, dengan menambahkan unsur musik lain, misalnya tangga nada, melodi, dan birama. Dengan catatan jika bait-bait tertentu memang sangat kuat ketika dibacakan, jang dipaksa untuk dilagukan. (Tengsoe Tjahjono, 2011:171).
Untuk melengkapi pelatihan musikalisasi puisi, maka semua unsur yang ada dalam seni pertunjukan musikalisasi puisi harus padu dan menyatu.
Sedangkan unsur-unsur dalam musikalisasi puisi antara lain:
- Puisi (naskah puisi), adalah unsur utamanya;
- Manusia (pembaca puisi), dan beberapa pemain musiknya;
- Musik, merupakan unsur pengiring bagi terwujudnya seni pertunjukan seni musikalisasi puisi. Sebaiknya musik yang digunakan dalam musikalisasi puisi ini, adalah alat-alat musik akustik (gitar, rebana, angklung, jimbe, suling, harmonika, biola, gambang dlsb.);
- Harmonisasi, dalam hal ini adalah harmonisasi antara puisi yang dibaca,
musik yang mengiringi, dan penampilan para awak pemain dalam pentasnya; - Dalam pentas musikalisasi puisi, yang terutama adalah puisinya, maka dasar musiknya berawal dari naskah puisi tersebut. Artinya not-not musikal berasal dari naskah puisi, dan naskah pusi tidak boleh ditambah dan dikurangi. Secara keterpaduan, maka nyanyian yang dilantunkan adalah berasal dari bait-bait yang ada dari naskah puisi tersebut;
- Apabila acara pentas musikalisasi puisi itu digunakan dalam lomba atau festival, maka harus diperhatikan pula soal durasi waktu yang digunakan dalam seluruh pentasnya;
- Penampilan para awak pentas musikalisasi puisi seharusnya juga harus mengetahui hukum panggung, yang mana dalam penampilannya tidak membelakangi penonton, tapi menghadap penonton. Begitu pula dalam berkolaborasi antarsesama pemain musik, pembaca puisi, serta penyanyinya;
- Musik yang yang dibunyisuarakan, tidak seharusnya melebihi suara (vokal) pembaca puisi, dan penyanyinya.
Demikianlah beberapa unsur pementasan seni pertunjukan musikalisasi puisi, agar mendapatkan pentas musikalisasi yang baik, indah, dan enak dinikmati sebagai sebuah pertunjukan seni. Musikalisasi puisi, menurut saya bukanlah dramatisasi puisi yang lebih banyak mengusung dan menampilkan gerak visualisasi penafsiran isi puisinya.
Musikalisasi puisi sebagai sebuah pertunjukan seni, tidak diperlukan banyak gerak, sehingga menjadi over-acting (banyak gerak), lebih fatal lagi jika didramatisasikan.
Seni pertunjukan seni bernama musikalisasi puisi, sepertinya memang mudah, tapi sebenarnya tidak semudah yang dibayangkan. Untuk itu perlulah kita mencoba menggarapnya. Karena dengan menggarap musikalisasi puisi, kita akan mendapatkan pengalaman-pengalaman tak terduga sebelumnya. Ada yang terasa indah, nikmat, dan juga menyenangkan. Seperti kata Goenawan Mohamad dalam Orasi Budaya Dies Natalis Fakultas Sastra Unair (25 November 2007) lalu, bahwa “Kesenian pada umumnya serta merta dikaitkan dengan keindahan, tanpa orang berpikir bagaimana keindahan lahir, dan kesenian dikaitkan pula dengan kebenaran, tapi hampir tak pernah kita persoalkan bagaimana kebenaran lahir dalam karya seni.
Demikian antara lain, bunyi materi workshop musikalisasi puisi yag disampaikan Aming Aminoedin, salah satu narasumber kegiatan pelatihan musikalisasi bagi siswa; yang tertulis di makalahnya.
Sebelum itu mereka peserta diajak berlatih dulu satu persatu di depan kelas ruangan, untuk memicu keberanian mereka tampil nantinya. Diajak pula membaca puisi secara berkelom-pok atau bersama, agar bisa tampil kolaborasi tanpa musik, dan kemudian tampilan terakhir akan memakai iringan musiknya.
Selain tampil narasumber Aming Aminoedhin, ada nama Harwi Mardiyanto – Guru SMKI (SMKN 12) Surabaya yang mengarahkan mereka peserta untuk bisa menampilkan mu-sikalisasi puisi lebih sempurna lagi.
Kegiatan berlatih memusikalisasi puisi bagi siswa ini berada di Balai Bahasa Jawa Timur dalam rangka mengembangkan kecintaan siswa pada sastra, sebagai penyelenggara kegiatan workshop atau pelatihan musikalisasi siswa. Pelatihan ini bertajuk “Bengkel Musikalisasi Puisi Bagi Pelajar SLTA se-Jawa Timur.” Pelatihan ini diadakan Balai Bahasa Jawa Timur (BBJT) kantornya yang baru, di Jalan Gebang Putih 10 Keputih – Sukolilo – Surabaya. Pembukaan kegiatan pelatihan Sabtu, 29 April 2023 dibuka oleh Ary Setyorini, S.Pd. Kasubbag Umum Tata Usaha – BBJT – mewakili kepala Dr. Umi Kulsum, S.S., M.Hum. yang ada keperluan lain yang tidak bisa diwakilkan.
Dalam sambutannya, Ary Setyorini merasa gembira dan terima kasih kepada para siswa dan pembina/gurunya yang telah ikut hadir dan ikut bergabung pelatihan ini. Sekaligus terima kasih kepada para narasumber yang berkompeten dalam bidangnya, bisa memberikan materi pengetahuan tentang musikalisasi puisi kepada para siswa.
Lebih jauh Kasubbag juga menjelaskan bahwa setelah pelatihan ini akan diadakan festival puisi puisi tingkat Jawa Timur. Kemudian hasil untuk juara satunya, akan dikirimkan untuk festival di tingkat nasional di Jakarta. Pelatihan akan berlangsung 4 kali pertemuan, yaitu pada Sabtu dan Minggu (29-30 April dan 6 dan 7 Mei 2023) di Kantor Balai Bahasa Jatim ini.
Pelatihan kali diikuti dari SMA/SMK/MA se-Jatim, antara lain dari kota Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Blitar, Bojonegoro, Ponorogo, dan beberapa kota lainnya. Pada hari pertama pelatihan, tampak para siswa sangat antusias untu mengikuti pelatihan ini. Mereka berlatih baca puisi sendiri-sendiri, kemudian secara berkelompok dengan gembira. (Aming Aminoedhin).**
Puisi-Puisi Minggu Ini: Materi Puisi Workshop Musikalisasi Puisi
Ahda Imran
SEBUAH KOTA
Kota ini berakhir di sebuah bundaran
jalan, di sebuah hotel dengan lampu-lampu
kamar yang selalu dipecahkan orang
Setiap malam suara-suara lenyap
ke arah jembatan, melewati gang dan tikungan
jalan. Di depanku, sambil makan siang,
televisi membawa mayat bayi yang ditinggalkan
di halaman gedung parlemen. Lalu seorang
bintang film memenuhi paru-paruku
dengan minyak wangi
tanganku basah
jemari kakiku berdarah
Kusinggahi rumah seorang kawan
tapi ia sedang sibuk menghisap cairan
dari dalam kepalaku. Tubuhnya penuh
toko klontong, dan telinganya mudah sekali
lepas. Di kejauhan sebuah kamar, seseorang
menyalakan lampu,
lalu memadamkannya kembali
2005-2006
Sumber: Penunggang Kuda Negeri Malam (Pustaka Jaya: 2014)
Chairil Anwar
SENJA DI PELABUHAN KECIL
* buat Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa terdekap.
1946
aming aminoedhin
TAK ADA KATA PUTUS ASA
kata ayahku, putus asa putus harapan
tak ada dalam kamus kita
putus asa putus harapan
adalah penyakit batin nan pahit
tak terperikan
putus asa putus harapan
tak ada obat mujarabnya
selain satu kata berupa iman
cita-cita harus tinggi dan mulia
agar teraih di tangan kita, dengan
perjuangan, dan belajar dari pengalaman
kegagalan sewaktu berjalan
tak ada kata putus asa
lantaran putus asa putus harapan
akan sia-sia bagi diri kita
akan sia-sia bagi masa depan
Mojokerto, 2009
aming aminoedhin
MELANGKAH KE SURAU ITU
gerimis siapakah itu
membentur pada dinding waktu
senja memang telah berlalu
tinggal gerimis, dan kerdip lampu-lampu
dibalut kabut terasa syahdu
gerimis siapakah itu
mengetuk pintuku lantas berlalu
disc musik mozart mengalun
antarkan senja pada rembang petang itu
kadang menghentak kadang syahdu
membalutbangunkan angan rinduku
ada juga suara adzan terdengar
sayup-sayup di kejauhan
ajak langkahku menuju surau itu, lalu
kubunuh mozart menghentak syahdu
gerimis belum juga habis
kucari payung tak kutemu juntrung
gerimis terus saja jatuh
tak harus membuat hatiku kisruh
jika ada rinduku bertumbuh
biarkan tumbuh di surau-Mu
gerimis boleh menghadangku
tapi langkah rinduku tetap bermuara
pada-Mu, kaki melangkah ke surau itu
Desaku Canggu, 10 /12/ 2009
Subagio Sastrowardoyo
BERILAH AKU KOTA
Pemandangan berulang selalu. Kabut
tipis mengambang di atas dusun. Air gemercik
terbentur di batu. Tanpa berubah.
Lenguh lembu tak bergema dan wajah
kusut terbayang di kolam berkerut.
Aku tak tahan menyaksikan gerak mati.
Aku ingin lari dan berteriak: “Berilah
aku kota dengan bising dan kotornya.
Kembalikan aku ke medan pergulatan mencari
nafkah dengan keringat bersimbah di tubuh.
Aku hanya bisa hidup di tengah masalah! “
Tetapi suaraku seperti tersumbat
di kerongkongan dan kakiku tak bertenaga
seperti lumpuh.
Aku bisa mati sebelum subuh.
Sumber: Dan Kematian Makin Akrab (Grassindo: 1995).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi