
Oleh: Dr. Hendra Alfani (Dosen FISIP Universitas Baturaja, Sumatera Selatan)
KEMPALAN: Ganjar Pranowo akhirnya ditetapkan menjadi bakal calon presiden (bacapres) yang akan di usung oleh PDIP dalam Pilpres 2024. Pengumuman Ganjar sebagai bacapres, disampikan langsung oleh Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDIP di Istana Batu Tulis, Bogor pada momen hari Kartini 21 April 2023.
Secara politis, penetapan Ganjar sebagai bacapres yang akan di usung PDIP, seperti anti klimaks. Setelah berbagai pro-kontra dan polemik politik yang menyelimuti Ganjar. Diantaranya, polemik penarikan dukungan relawan Jokowi Mania dan GP Mania terhadap Ganjar yang berbalik mendukung Prabowo. Megawati sepertinya “dipaksa” oleh situasi politik untuk lebih cepat memutuskan Ganjar sebagai bacapres PDIP.
Lalu polemik pernyataan Ganjar yang menyatakan penolakan atas Timnas Israel untuk bertanding di gelaran Piala Dunia U-20, di mana Indonesia menjadi tuan rumah. Pada akhirnya berdampak pada pembatalan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 oleh FIFA, dan menunjuk Argentina sebagai penggantinya.
Pada saat pidato pengumuman Ganjar sebagai bacapres PDIP, Megawati Soekarnoputri menegaskan bahwa dirinya menggunakan akal, budi, mata hati, pikiran, dan berdialog dengan tokoh bangsa termasuk Presiden Jokowi, maupun internal partai, serta meminta petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebelum memutuskan dan menetapkan Ganjar sebagai bacapres yang akan di usung oleh PDIP.
Selesai sudah gonjang-ganjing politik soal siapa bacapres yang akan di usung oleh PDIP. Pernyataan Megawati Soekarnoputri, sebagai Ketua Umum PDIP yang diberikan hak prerogatif pada Kongres ke-5, untuk menetapkan siapa bacapres yang akan di usung oleh PDIP.
Ganjar yang pernah disebut kemajon oleh Bambang Pacul, lalu disindir cukup pedas oleh Puan dengan menyatakan bahwa pemimpin tidak hanya populer di media sosial tapi harus kerja turun ke bawah menyapa rakyat, atau pernyataan Immanuel Ebenezer (Noel), Relawan Jokowi Mania dan GP Mania yang menyebut Ganjar tak punya visi misi kebangsaan sebagai capres: Anti klimaks! Berakhir sudah.
Sebelum mengumumkan penetapan Ganjar sebagai bacapres PDIP, Megawati menyebutkan, bahwa apa yang akan disampaikannya merupakan tanggungjawab terhadap sejarah, bangsa dan negara. Lalu penetapan Ganjar sebagai bacapres, menurut penegasan Megawati, telah melalui pertimbangan akal, budi, mata hati dan pikiran yang mendalam. Konteks ini menunjukkan sikap rasional Megawati terhadap realitas politik yang berkembang jelang Pemilu-Pilpres 2024.
Megawati, dalam pidatonya juga menegaskan bahwa penetapan Ganjar sebagai bacapres PDIP, juga dilakukan dengan berdialog dengan tokoh bangsa termasuk Presiden Jokowi. Konteks ini bisa saja dimaknai bahwa Megawati mengambil alih “peran” politik Jokowi yang selama ini menjadi King Maker dengan meng-endorse nama-nama capres yang sudah beredar, khususnya figur Prabowo Subianto.
Jokowi terlihat kikuk dan kurang plong dalam rapat DPP penetapan Ganjar bacapres PDIP di Batu Tulis. Pidato Jokowi terkesan datar dan kurang strong. Para pengamat berasumsi, sepertinya penetapan Ganjar sebagai bacapres yang akan di usung PDIP, agak di luar ekspekstasi Jokowi, yang sebulan terakhir dinilai condong meng-endorse Prabowo sebagai bacapres.
Pengamat juga menilai, bahwa rasionalitas Megawati dalam memilih Ganjar sebagai bacapres, juga terkesan kurang “membahagiakan” Puan Maharani sebagai “Putri Mahkota”, yang ekspresinya juga terlihat datar ketika pengumuman Ganjar sebagai bacapres berlangsung.
Sebab sebelumnya, Puan adalah salah satu sosok kader utama PDIP yang juga digadang-gadang akan diajukan sebagai bacapres PDIP. Tetapi Puan kemudian diberikan tugas oleh Megawati untuk segera membentuk tim pemenangan dan melakukan konsolidasi ke internal dan eksternal PDIP serta turun ke bawah menyapa rakyat untuk memenangkan Pileg dan Pilpres 2024,
Hal yang tak kalah menarik, adalah tampilnya Prananda Prabowo (Mas Nanan) di panggung depan dalam acara pengumuman itu. Mas Nanan yang biasanya berada di belakang layar, di hadapan forum itu ditunjuk Megawati untuk mengepalai situation room yang bertugas menganalisis perkembangan situasi politik dan menyiapkan strategi pemenangan Ganjar sebagai bacapres PDIP.
Sepertinya ada dialog secara politis-psikologis yang njlimet antara Megawati dengan putrinya Puan Maharani yang juga menjabat Ketua DPR RI sekaligus sebagai Ketua Bapilu DPP PDIP. Termasuk kali ini menampilkan Prananda Prabowo sebagai figur penting di panggung depan politik PDIP untuk memenangkan Pileg dan Pilpres 2024.
Disinilah konteks rasionalitas politik Megawati dapat dimaknai secara gamblang. Mencetak hattrick memenangkan Pileg dan Pilpres 2024, sepertinya jauh lebih penting ketimbang berspekulasi memaksakan Puan sebagai bacapres PDIP, yang fakta elektabilitasnya jauh di bawah Ganjar.
Kepentingan partai yang di balut rasionalitas politik, sepertinya telah dipilih sebagai peta jalan politik oleh Megawati melalui hak prerogatifnya sebagai Ketum PDIP, ketika akhirnya memutuskan dan menetapkan Ganjar sebagai bacapres yang akan di usung PDIP.
Walaupun juga kuat dugaan bahwa “percepatan” pengumuman dan penetapan Ganjar sebagai bacapres yang akan di usung oleh PDIP ini, juga ditenggarai sebagai strategi politik untuk mencegah semakin turunnya elektabilitas Ganjar, setelah polemik penolakan Gubernur Jawa Tengah itu terhadap keikutsertaan Timnas Israel digelaran Piala Dunia U-20 FIFA beberapa minggu lalu.
Terlepas dari semua itu, keputusan politik rasional Megawati menetapkan Ganjar sebagai bacapres, tidak saja menghentikan spekulasi dan tarik-menarik berbagai kepentingan politik terkait siapa capres yang akan di usung PDIP dalam Pilpres 2024. Tetapi juga “menghentikan” manuver endorsement politik terhadap nama-nama capres yang dimainkan oleh Presiden Jokowi.
Tentu, episode politik yang tak kalah menarik berikutnya adalah siapa bacawapres yang akan dipilih untuk mendampingi Ganjar? Kemudian parpol mana saja yang akan menjadi koalisi PDIP mengusung Ganjar dan bacawapresnya nanti? Lalu, langkah politik apa yang akan diambil oleh Prabowo-Gerindra dan Cak Imin-PKB. Kemudian bagaimana nasib Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang telah dibentuk oleh Golkar, PAN dan PPP?
Terakhir apakah Koalisis Perubahan (Nasdem, Demokrat dan PKS) jadi mengusung Anies Baswedan, siapa bacawapresnya dan kapan akan dideklarasikan? Tentu menarik, semua masih serba mungkin. Pastinya situasi politik jelang September 2024 akan semakin eskalatif. Kita tunggu saja. ()

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi