KEMPALAN: RELAWAN ialah orang yang rela bekerja tanpa pamrih untuk membantu sebuah pekerjaan atau menyelesaikan sebuah persoalan. Relawan harusnya bekerja ikhlas tanpa mengharapkan imbalan apa pun. Tapi, dalam praktiknya sekarang kelompok relawan sudah menjadi organisasi pseudo-politik, alias organisasi politik semu.
Organisasi relawan menjadi instrumen pendukung seorang politisi dalam sebuah kontestasi politik. setelah calon yang didukungnya menang, kelompok relawan berubah bentuk menjadi menjadi semacam pressure group. Organisasi relawan biasanya bubar setelah pekerjaan selesai. Tapi dalam banyak kasus, di Indonesia, kelompok relawan tetap berdiri jauh setelah pekerjaan selesai.
Kelompok relawan ini tidak rela begitu saja setelah calon yang didukungnya dalam perhelatan politik menang. Banyak yang menunggu mendapatkan political reward, ganjaran politik, misalnya jabatan sebagai komisaris di BUMN (badan usaha milik negara), atau malah meminta jatah menteri.
Kelompok relawan menjadi bagian penting dari tim sukses, karena mesin partai politik dianggap tidak efektif bekerja. Para kandidat dalam perhelatan politik biasanya lebih suka memakai sistem beli putus untuk mendapatkan tiket dari partai politik. Setelah tiket didapat maka kandidat membentuk sendiri tim sukses untuk menjadi tim pemenangan.
BACA JUGA: Pers Indonesia Tidak Baik-Baik Saja
Praktik jual beli putus ini menjadi hal yang lazim dalam perhelatan kontestasi politik di Indonesia. Partai politik yang punya tiket memasang harga tertentu kepada calon yang hendak meminta tiket. Macam-macam nama biaya itu, mulai dari biaya pemenangan, biaya kampanye, biaya konsolidasi, biaya serangan fajar, dan lain sebagainya. Biaya-biaya itu lazim disebut sebagai mahar sebagai bagian dari transaksi politik.
Ada partai politik yang mencoba membongkar praktik itu dengan mengusung jargon ‘’politik tanpa mahar’’, tidak ada biaya politik yang harus dibayar untuk mendapatkan tiket politik. Partai yang paling getol mengusung jargon itu adalah Partai Nasional Demokrat atau Nasdem. Saat ini Nasdem menjadi pengusung utama Anies Baswedan sebagai calon presiden. Dua partai yang menyusul Nasdem mengusung Anies Baswedan adalah Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
Beberapa hari terakhir lanskap politik Indonesia diramaikan oleh berita mengenai kelompok relawan yang membubarkan diri. Kelompok relawan ini menyebut diri sebagai GP Mania atau Ganjar Pranowo Mania yang merupakan reinkarnasi dari kelompok relawan Joman alias Jokowi Mania.
Semula, GP Mania yang diketuai oleh Emmanuel Ebenezer, menjadi pendukung fanatik Ganjar Pranowo. Selama beberapa tahun terakhir bermunculan banyak sekali organisasi relawan yang menyatakan mendukung Ganjar Pranowo. Tetapi, dengan semakin dekatnya pendaftaran pemilu, mulai ada kelompok relawan yang ragu-ragu terhadap masa depan politik Ganjar Pranowo.
BACA JUGA: Childfree dan Resesi Seks
Ganjar menjadi kandidat calon presiden yang punya popularitas dan elektabilitas bagus. Setiap kali ada survery capres nama Ganjar tidak pernah lepas dari 3 besar bersama Anies Baswedan dan Prabowo Subianto. Itulah sebabnya muncul desakan yang cukup deras dari akar rumput PDIP, partai yang menaungi Ganjar, supaya segera menetapkan Ganjar sebagai calo presiden.
Tetapi, tarik menarik terjadi sangat kuat di internal PDIP. Megawati Soekarnoputri sebagai supremo partai terlihat tidak rela memberikan tiket kepada Ganjar Pranowo. Mega masih sangat menginginkan putri mahkota Puan Maharani sebagai pemegang tiket calon presiden.
Persoalan yang belum terpecahkan adalah elektabilitas Puan yang masih tersangkut di angka satu koma. Seiring dengan semakin mepetnya waktu, semakin sulit bagi PDIP untuk mengatrol elektabilitas Puan. Dengan modal elektabilitas yang minimalis itu PDIP tidak mau berjudi dengan memberikan tiket kepada Puan.
Di sisi lain Ganjar Pranowo masih berkutat dengan ketidakpastian. Ia tidak berani mengabil sikap tegas, karena Megawati sudah siap dengan kartu kuning maupun kartu merah. Begitu Ganjar berani melakukan pelanggaran, kartu merah akan segera melayang. Itulah sebabnya Ganjar gamang, maju tidak berani mundur tidak mau.
BACA JUGA: Lahirnya Seorang Diktator
Di sisi lain, para relawan Jokowi terus bergerak mengadakan musyawarah nasional untuk memilih calon presiden yang bakal disodorkan ke Jokowi. Nama Ganjar selalu muncul dan ungggul di berbagai arena musyarawah. Tetapi, rekomendasi relawan Jokowi itu tidak ada artinya karena tidak ada partai politik yang menanggapinya.
Koalisi Golkar, PPP, dan PAN yang semula diduga menjadi sekoci penyelamat untuk Ganjar Pranowo, ternyata sampai sekarang tidak kunjung mengumumkan kandidat calon presidennya. Belum ada satu partai pun yang berani secara resmi memunculkan Ganjar Pranowo sebagai kandidat calon presiden. Tidak ada partai yang berani mengusik PDIP dengan mencalonkan Ganjar sebagai kandidat capres.
Kondisi ini membuat kelompok organisasi lawan frustrasi terhadap Ganjar. Salah satunya adalah GP Mania yang menjadi reinkarnasi Jokowi Mania. Ketua GP Mania memutuskan untuk membubarkan organisasi relawannya dan mencabut dukungannya terhadap Ganjar.
Relawan GP Mania tidak sabar melihat Ganjar yang tidak bertindak tegas. Ganjar dianggap tidak layak menggantikan Jokowi, dan karena itu kelompok relawan itu akan mengalihkan dukungan kepada calon lain. Ganjar dianggap miskin gagasan, tidak punya visi dan misi yang jelas untuk membangun Indonesia. Ganjar dianggap tidak bernyali untuk mendobrak kebuntuan politik. Ganjar juga dianggap sarat pencitraan sehingga identitasnya yang riil tidak sesuai dengan citranya di media sosial.
BACA JUGA: Satu Abad NU, We Will Rock You sampai ‘’Wak Min Thoriq’’
Bukan hanya GP Mania yang lari dari Ganjar. Pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda juga menyatakan mufaroqoh, memisahkan diri dari Ganjar Pranowo. Abu Janda dikenal sebagai pendukung fanatik Jokowi yang kemudian juga mendukung Ganjar sebagai calon penerus Jokowi. Tetapi, melihat perkembangan yang macet, Abu Janda pun mengalihkan dukungannya kepada Prabowo Subianto.
Abu Janda berani bertaruh Rp 50 juta untuk menjagokan Prabowo sebagai pemenang pemilu 2024. Abu Janda mengatakan bahwa ia berada di pihak Prabowo karena selama ini ia selalu berada di pihak yang menang.
Ganjar mulai ditinggalkan relawan yang mendukungnya. Sebaliknya, Anies Baswedan semakin kencang gerakannya. Setelah tiga partai resmi menyatakan dukungan, Anies semakin mantap bergerak. PKS berencana akan mendeklarasikan pencalonan Anies 24 Februari. Ini berarti Anies sudah resmi mendapat dukungan 3 partai yang sudah memenuhi persyaratan presidential threshold.
Kubu oposisi semakin terkonsolidasi. Sementara kubu koalisi masih mencari-cari formasi yang paling tepat. Koalisi Gerindra dan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) sudah membentuk sekretariat bersama, tapi belum menemukan kesepakatan siapa yang akan menjadi wakil Prabowo.
BACA JUGA: Ilhan Omar, Rasmus Paludan, dan Borok Demokrasi
Para relawan pendukung Jokowi masih mengharap Ganjar Pranowo segera mendapat kepastian tiket pilpres. Tetapi realitas politik yang semakin kompleks membuat tiket Ganjar terasa semakin jauh. Seperti berburu dengan waktu, relawan-relawan itu harus segera menentukan sikap.
Mungkin masih akan ada yang menyusul GP Mania dan Abu Janda yang menarik dan mengalihkan dukungan dari Ganjar Pranowo. Seiring dengan semakin mepetnya waktu, Ganjar Pranowo bisa semakin kesepian ditinggalkan oleh relawan-relawannya. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi