Saya mampir ke rumahnya di Magelang Sabtu pagi lalu. Yakni dalam perjalanan saya dari Subang-Cirebon-Waleri-Magelang-Banyumas. Mampir-mampir. Di rumah itu saya ngobrol dengan drh Yuda yang begitu santainya. Di tengah obrolan itu satu per satu orang datang. Beberapa di antaranya saya kenal. Termasuk mantan bupati Demak yang terlihat begitu kesakitan.
Saya jadi sungkan mengganggu waktu tunggu orang sakit. Ingin sekali saya bisa ngobrol selama dua jam. Tapi yang antre kian banyak: 12 orang.
Mengapa Yuda tidak mau melakukan stemcell saja? Seperti yang mulai banyak dilakukan berbagai klinik di Indonesia?
BACA JUGA: Gunung Kawi
“Saya memang bisa membiakkan sel manusia. Lalu menyuntikkannya kembali ke tubuh manusia. Tapi repot,” ujar Yuda. Kerepotan itu, misalnya, ia harus mengambil lebih dulu sel dari pasien. Baik lewat pengambilan darah atau pun lemak. Lalu membiakkannya menjadi ratusan juta sel. Lantas memasukkannya ke tubuh pasien. “Repot. Banyak pekerjaan. Saya kan bukan dokter,” ujarnya.
Maka kecerdasan dan logika Yuda pun bermain. Mengapa tidak memasukkan protein sel saja ke tubuh manusia. Agar sel tersebut mendapat makanan sehat yang cukup. Lalu sel itu bisa membiak sendiri di dalam tubuh secara sehat.
Memasukkan protein sel lebih mudah dan sederhana: bagi orang pintar seperti Yuda. Apalagi Yuda tahu dari mana mendapatkan protein sel itu. Pun kalau kebutuhannya banyak sekali.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi