Pagi itu, setelah senam Disway dan kuliah umum di Universitas Tidar yang kini maju pesat, saya baru tahu ada logika sehat seperti itu.
Saya pun melihat tabung-tabung kecil ditaruh di sebuah mangkuk di meja tamu. Isinya cairan warna merah jingga. Rupanya dari botol besar di kulkas itu dipindah ke tabung-tabung kecil. Satu tabung untuk satu suntikan. Di satu pantat.
Saya pun minta disuntik. Sekadar ingin tahu rasanya. Saya langsung memelorotkan celana di ruang tamu itu. Toh tidak ada Dewi Kwan Im di situ.
Bles. Selesai.
Saya pun pamit.
BACA JUGA: Arek Kesel
Saya sempat bertanya lagi: mengapa cairan yang akan disuntikkan itu ditaruh di meja tamu begitu saja. “Ini supaya hilang dinginnya. Ikut suhu ruangan,” katanya. Oh, iya. Cairan itu akan dimasukkan ke tubuh. Suhu tubuh sendiri sekitar 36 derajat celsius.
“Praktik Anda ini pasti kontroversial. Mengapa tidak mengalah saja dengan kuliah lagi di fakultas kedokteran?” tanya saya.
“Anak kedua saya sedang menyelesaikan kuliah di kedokteran UGM,” ujar ujar Yudha yang kini berumur 53 tahun. “Biar anak saya saja nanti,” tambahnya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi