Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh keluarga korban dan para suporter Arema untuk menuntut keadilan. Semua pintu terlihat buntu. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi di balik pintu. Mungkin ada negosiasi dan kompromi, tapi publik tidak ada yang tahu.
Tragedi itu seolah-olah sudah menjadi bagian dari kenangan yang terlupakan. Para elite suah mulai sibuk menyiapkan diri berebut kuris tertinggi PSSI. Sekarang sudah mulai muncul nama-nama yang bakal menjadi ketua umum PSSI menggantikan Iwan Bule. Beberapa nama sudah muncul, dan yang paling santer disebut ialah Erick Thohir.
BACA JUGA: Made in Japan
Sejumlah pendukungnya sudah bergerak melakukan gerilya untuk mencari dukungan suara dari klub maupun asosiasi sepak bola provinsi. Erick Thohir juga mulai melakukan kampanye dengan melakukan pertemuan dengan beberapa pengelola klub. Salah satunya dilakukan di Surabaya dalam acara yang dibungkus dengan nonton bareng pertandingan Piala Dunia.
Tidak bakal ada yang bisa menahan gerakan Erick menuju kursi tertinggi PSSI, karena sudah pasti dia mendapat dukungan kuat dari penguasa. Para voters, pemegang suara dalam Kongres, bukan faktor yang perlu dirisaukan. Erick tahu bahwa para voters bisa diselesaikan secara adat. Publik sepak bola seluruh Indonesia juga tahu bagaimana penyelesaian secara adat itu selama ini berlangsung.
Pucuk dicinta ulam tiba. Itulah pepatah yang cocok untuk Erick Thohir. Ia sedang butuh kendaraan untuk mendongkrak popularitas menjelang pemilihan presiden 2024. Dan kendaraan itu tersedia di depan mata. Kendaraan politik itu bernama PSSI. Tinggallah suporter Arema merana sepanjang masa. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi