Oleh: M.Rohanudin Praktisi Penyiaran
KEMPALAN : Setiap mendekati Eid al-Fitr, ada satu perasaan yang selalu muncul tanpa diminta. Keinginan untuk pulang.
Bukan sekadar pulang secara fisik. Tapi pulang ke sesuatu yang lebih dalam. Ke suasana, ke orang-orang, ke versi diri yang dulu pernah merasa hidup begitu sederhana dan utuh.
Aneh memang. Sepanjang tahun kita sibuk berjalan ke berbagai arah. Mengejar banyak hal, membangun hidup dengan cara yang sering kali melelahkan.
Tapi begitu Lebaran mendekat, semua itu seperti melambat. Ada satu titik yang tiba-tiba menjadi tujuan bersama. Kampung halaman.
Seolah-olah semua jalan, sejauh apa pun kita melangkah, selalu punya satu arah pulang yang tidak pernah berubah.
Perjalanan pulang itu sendiri sering kali tidak nyaman. Jalanan padat, kendaraan bergerak pelan, badan lelah, waktu terasa panjang. Tapi justru di situlah letak keindahannya.
Orang-orang tetap menjalaninya dengan sabar, bahkan dengan sedikit senyum, karena mereka tahu di ujung perjalanan itu ada sesuatu yang tidak bisa digantikan yaitu rumah, atau setidaknya rasa seperti pulang ke rumah.
Dan begitu sampai, semuanya langsung terasa berbeda.
Udara kampung seperti punya cara sendiri untuk menyambut. Tidak selalu lebih segar, tidak selalu lebih sejuk, tapi selalu terasa lebih dekat.
Wajah-wajah yang lama tidak ditemui tiba-tiba hadir. Menyapa dengan cara yang tidak dibuat-buat.
Tidak ada basa-basi yang berlebihan, tidak ada formalitas yang melelahkan. Semuanya berjalan begitu saja, alami, seperti tidak pernah ada jarak waktu yang memisahkan.
Hari pertama Eid al-Fitr selalu menjadi puncaknya. Pagi datang dengan suasana yang sulit dijelaskan lebih hidup, lebih hangat, dan entah kenapa terasa lebih berarti.
Orang-orang berjalan menuju masjid dengan pakaian terbaik yang mereka punya, dan setelahnya, mereka tidak langsung pulang. Mereka berhenti, berjabat tangan lebih lama, saling memaafkan dengan cara yang mungkin sederhana, tapi terasa tulus.
Lalu dimulailah satu tradisi yang tidak pernah kehilangan pesonanya: saling berkunjung tanpa janji.
Rumah-rumah terbuka, kursi tidak pernah kosong, dan meja makan selalu siap untuk siapa saja yang datang.
Orang datang dan pergi, tapi suasana tidak pernah benar-benar sepi. Di sela-sela itu, tawa kecil muncul, cerita lama diulang, dan tanpa disadari waktu berjalan begitu cepat.
Anak-anak punya dunianya sendiri. Berlarian dari satu rumah ke rumah lain, mengumpulkan kebahagiaan dalam bentuk yang paling sederhana.
Sementara orang dewasa duduk lebih lama di teras, berbagi cerita yang mungkin sudah pernah didengar berkali-kali, tapi tetap terasa baru karena diceritakan bersama orang yang sama.
Lebaran seperti ini tidak pernah mencoba menjadi sempurna. Tidak selalu lengkap, tidak selalu mewah, bahkan kadang sederhana sekali.
Tapi justru di situlah kekuatannya. Ia tidak dibangun oleh apa yang terlihat, melainkan oleh apa yang dirasakan.
Dan mungkin, itulah alasan kenapa keinginan untuk pulang selalu muncul setiap tahun.
Karena jauh di dalam diri, kita tahu ada sesuatu yang menunggu. Bukan sesuatu yang baru, tapi sesuatu yang akrab.
Sesuatu yang tidak berubah banyak, tapi selalu berhasil membuat kita merasa lebih tenang, lebih ringan, dan entah bagaimana… lebih menjadi diri sendiri.
Lebaran bukan hanya tentang hari raya.
Ia adalah tentang pulang ke tempat, ke orang, dan ke rasa yang tidak pernah benar-benar pergi.(*).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi