Senin, 8 Juni 2026, pukul : 01:54 WIB
Surabaya
--°C

Namanya Menjaga Ashabiyyah

Rupiah dijaga Bank Indonesia. Kepercayaan dijaga oleh keteladanan pemimpin. Dalam teori Ibnu Khaldun, negara bertahan karena ashabiyyah, bukan sekadar uang dan kekuasaan.

Oleh: Ahmadie Thaha

KEMPALAN: Dalam dua tulisan sebelumnya, kita berbicara tentang kurs dolar dan kepercayaan publik. Yang satu diukur oleh pasar, yang lain diukur oleh survei. Yang satu bergerak di layar monitor, yang lain hidup di kepala dan hati manusia.

Survei Poltracking menyebut tingkat kepercayaan publik pada pemerintah masih tinggi, 74 persen.

Tetapi ada satu pertanyaan yang lebih menarik. Jika kepercayaan publik memang merupakan modal politik yang begitu berharga, yang bisa saja tiba-tiba turun, apa yang sedang dilakukan Prabowo Subianto untuk menjaganya?

Pertanyaan ini penting karena kepercayaan tidak tumbuh seperti rumput liar yang muncul sendiri setelah hujan. Kepercayaan lebih mirip sawah. Ia harus ditanam, dipelihara, diairi, dan dijaga dari hama. Sekali gagal panen, maka tak mudah untuk menumbuhkannya kembali.

Dalam beberapa bulan terakhir, tampak ada pola yang konsisten. Bahwa Presiden Prabowo tak hanya berbicara tentang program-program pemerintah.

Presidena berusaha memastikan bahwa program-program itu terlihat, terasa, dan menyentuh langsung kehidupan rakyat. Setidaknya begitu yang terlihat.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi contoh paling jelas. Presiden tidak sekadar meresmikan program, lalu menyerahkannya kepada birokrasi.

Ia berkali-kali turun tangan, memantau pelaksanaan, bahkan mengumpulkan ratusan pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Sentul untuk memastikan mesin besar itu bergerak sesuai arah yang ditentukan.

BACA JUGA  Jokowi Layak Sandang Gelar “Tukang Ngibul” Nasional

Di mata sebagian orang, itu mungkin sekadar urusan teknis. Tetapi dalam politik, dapur seringkali lebih penting daripada podium. Rakyat tidak memakan pidato. Rakyat memakan hasil kebijakan. Karena itu, bagi seorang presiden, satu dapur yang gagal terkadang lebih berbahaya daripada seratus pidato yang berhasil.

Namun kepercayaan tidak hanya dibangun oleh keberhasilan. Ia juga dibangun oleh cara seorang pemimpin menghadapi kegagalan.

Di sinilah ujian sesungguhnya muncul. Ketika dugaan penyimpangan dan korupsi menyeret nama-nama yang berada di lingkungan program strategis pemerintah, perhatian publik tidak lagi tertuju pada besarnya anggaran atau jumlah penerima manfaat. Perhatian publik beralih pada satu pertanyaan sederhana: apakah pemerintah berani membersihkan rumahnya sendiri?

Membersihkan rumah sendiri selalu lebih sulit daripada membersihkan rumah tetangga. Debu di rumah tetangga tidak memiliki hubungan emosional dengan kita. Debu di rumah sendiri seringkali menempel pada orang-orang yang dahulu dipercaya, diajak berjuang, bahkan dibanggakan.

Karena itu sejarah menunjukkan bahwa banyak pemimpin jatuh bukan karena serangan lawan, melainkan karena ketidakmampuannya mengambil jarak dari orang-orang dekatnya sendiri. Loyalitas berubah menjadi pembenaran.

Persahabatan berubah menjadi perlindungan. Dan kekuasaan perlahan berubah menjadi benteng yang melindungi kesalahan.

Ibnu Khaldun telah mengingatkan hal itu lebih dari enam abad yang lalu melalui teorinya yang terkenal: ashabiyyah. Banyak orang menerjemahkan ashabiyyah sebagai solidaritas kelompok. Padahal maknanya lebih dalam.

BACA JUGA  Pemimpin Berwatak Maling (Bag-1)

Ashabiyyah adalah energi kepercayaan yang membuat sekelompok manusia merasa memiliki nasib yang sama dan tujuan yang sama.

Ketika ashabiyyah kuat, rakyat bersedia mendukung pemimpinnya. Aparat bersedia menjalankan tugasnya. Institusi bekerja. Program bergerak. Negara memiliki daya tahan menghadapi badai.

Tapi ketika ashabiyyah melemah, semuanya mulai retak. Orang tidak lagi percaya kepada pemimpin. Pemimpin tidak lagi percaya kepada bawahannya. Dan negara perlahan berubah menjadi bangunan besar yang kehilangan semen perekatnya.

Dalam perspektif Ibnu Khaldun, bahwa ancaman terbesar terhadap sebuah pemerintahan bukanlah kritik. Bukan pula oposisi. Ancaman terbesar adalah hilangnya kepercayaan yang mengikat seluruh elemen bangsa menjadi satu kesatuan.

Karena itu, jika rupiah adalah mata uang ekonomi, maka kepercayaan adalah mata uang kekuasaan. Bank Indonesia memiliki cadangan devisa untuk mempertahankan rupiah. Tetapi tidak ada bank sentral yang memiliki cadangan kepercayaan.

Kepercayaan hanya dapat dibangun melalui keteladanan, keberanian mengambil keputusan, dan kesediaan menegakkan aturan bahkan terhadap orang-orang yang berada di lingkaran sendiri. Prabowo kali ini cukup tegas bertindak terhadap rekan dekatnya, Dadan Hindayana.

Di situlah mungkin letak salah satu pertaruhan terbesar pemerintahan Prabowo hari ini. Bukan semata-mata menjaga pertumbuhan ekonomi. Bukan semata-mata menjaga stabilitas rupiah.

Melainkan menjaga agar mata uang yang paling mahal dalam politik bisa tetap memiliki nilai.

Namanya kepercayaan.

*) Ahmadie Thaha, Kolumnis

Pendapat dalam artikel ini adalah pandangan pribadi.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.