Dalam beberapa kesempatan dibeberapa undangan ulang tahun Partai, Golkar dan Perindo, Jokowi mengatakan bahwa jangan sembrono dalam memilih capres. Hal ini diduga berkaitan dengan ketidaksetujuan Jokowi terhadap keputusan partai Nasdem sebagai partai koalisi pemerintah yang mencalonkan Anies Baswedan.
Ketidaksukaan Jokowi terhadap Anies Baswedan, berimbas kepada siapapun yang memberi ruang dan panggung kepada Anies Baswedan.
BACA JUGA: Anies, Perubahan dan Kebangkitan Indonesia
Pada moment ulang tahun Perindo dan Golkar, terlihat ketidaksukaan Jokowi terhadap Surya Paloh. Jokowi terlihat gesture tubuhnya menghindar ketika Surya Paloh berusaha berpelukan, hal yang sudah biasa mereka lakukan bila bertemu.
Sikap Jokowi sebagai seorang kepala negara tentu mempermalukan PDIP sebagai partai yang mengklaim dirinya sebagai partai yang demokratis, partai yang menghormati perbedaan dan kebhinnekaan. Seandainya Bung Karno masih hidup tentu akan menangis sedih melihat perilaku Jokowi yang mengaku Soekarnois.
Hal yang memprihatinkan lagi, ketika berlangsung Kongres Kahmi di Palu, Jokowi yang sedianya membuka acara, ternyata dibatalkan, konon kabarnya menurut berita yang beredar, Jokowi memberi syarat akan hadir membuka acara, bila Anies Baswedan tidak diundang atau hanya diundang sebagai peserta biasa. Sebuah sikap yang jauh dari kenegarawanan dan demokratis.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi