Ketimpangan sosial-ekonomi di Indonesia mengerikan. Tapi, pemerintah kembali memberikan false flag dengan menyebut bahwa disparitas ekonomi Indonesia rendah berdasarkan angka rasio Gini. Ini adalah false flag, karena rasio Gini menghitung pengeluaran seseorang, bukan menghitung pendapatannya.
Seorang mahasiswa bisa mengeluarkan Rp 10 ribu sehari, dan seorang konglomerat juga bisa cukup makan dengan Rp 10 ribu sehari. Bedanya, mahasiswa hanya punya 10 ribu sehari. Dia makan Rp 5 ribu di pagi hari, lalu membeli obat mag Rp 5 ribu supaya magnya tidak kambuh, karena sepanjang siang dan malam dia tidak bisa makan. Sementara sang konglomerat bisa makan ubi-ubian sederhana karena dia sudah banyak penyakit, tapi dia punya HPH hutan ribuan hektare.
BACA JUGA: Bung Karno dan PKI
Rocky kemudian menyoal Pancasila sebagai ideologi. Menurutnya, Pancasila bukanlah ideologi negara. Menurut dia, sebuah ideologi mesti utuh dan tak ada pertentangan di dalamnya. Menurut Rocky ada banya kontradiksi dari sila ke sila, misalnya sila pertama dan sila kedua sudah bertentangan. Rocky mengatakan arti sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah menghadapkan wajah ke langit. Sila itu menganggap bahwa hanya dari situ lah sumber kebaikan untuk manusia.

Sila ke-2, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, dapat diartikan bahwa berbuat baik itu tidak perlu menghadap langit. Kalau seseorang berbuat baik berharap dari langit, artinya dia tidak jujur berbuat baik. Itulah prinsip humanisme.
Pandangan Rocky disanggah oleh Prihandoyo Kuswanto pendiri ‘’Rumah Pancasila’’. Menurutnya Pancasila adalah ideologi negara yang mendasari semua undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi