Jokowi memanfaatkan momen ini untuk meningkatkan reputasinya di level internasional. Ketika konflik Rusia-Ukraina pecah, Jokowi melakukan inisiatif perdamaian dengan berkunjung ke Ukraina dan Rusia. Dengan mendamaikan Rusia dan Ukraina Jokowi berharap memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian. Tetapi, harapan ini berantakan karena Vladimir Putin tidak hadir di Bali.
False flag lain adalah pengumpulan dana pandemi, pandemic fund, oleh Bank Dunia yang diklaim sebagai keberhasilan Jokowi. Padahal itu adalah program World Bank yang diinisiasi pada pertemuan G20 di Italia untuk mengumpulkan dana cadangan internasional. Tujuannya untuk mengantisipasi kemunculan pandemi di masa datang. Dana cadangan yang dibutuhkan sebebsar USD 10 Miliar dikumpulkan secara saweran dari anggota G20. Rocky pun memelesetkan kepanjangan G-20 menjadi Gagal-20, karena misi tersembunyi Jokowi gagal dalam even itu.
BACA JUGA: Jihad dan Tawuran
False flag yang paling menyolok adalah proyek IKN (Ibu Kota Nusantara) yang menghabiskan anggaran hampir Rp 500 triliun. Proyek ini semula akan diselesaikan melalui investasi bisnis B to B. Tapi karena investor tidak ada yang masuk, maka akhirnya anggaran dibebankan kepada negara.
Proyek ini akan menjadi beban bagi pemerintah berikutnya. Proyek ini juga akan memperberat beban utang Indonesia. Setiap bayi yang lahir di Indonesia nanti akan langsung menanggung beban Rp 40 juta. Hal ini menjadi beban berat bagi pemerintahan mendatang.

Menurut Rocky, Jokowi tidak perlu melakukan manuver yang rumit untuk menjegal lawan politiknya maju dalam pilpres 2024. Jokowi bisa melakukannya dengan membuat utang luar negeri sebanyak mungkin. Dengan begitu, presiden baru yang dilantik akan pingsan ketika menyadari beban utang Indonesia.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi