Bayi-bayi Indonesia lahir dalam situasi yang memprihatinkan. Selain beban utang, bayi Indonesia menghadapi bahaya stunting atau pencebolan. Angka stunting di Indonesia mencapai 20 persen, artinya satu di antara 5 bayi Indonesia akan mengalami ketertinggalan pertumbuhan fisik dan otak. Karena itu mereka terancam akan menjadi generasi dungu.
Tingkat kecerdasan Indonesia secara internasional sangat memprihatinkan karena berada pada posisi buncit, dan hanya lebih tinggi dari Timor Leste dan Laos. Melihat kondisi demografis seperti ini Rocky mempertanyakan, dari mana Indonesia bisa gembar-gembor akan mendapatkan bonus demografi pada 2045.
BACA JUGA: Gubernur Lesbian
Pemerintah Indonesia selalu mengatakan bahwa pada peringatan ke-100 kemerdekaan pada 2045 Indonesia akan menjadi negara maju berkat bonus demografi. Secara umum bonus demografi didapat karena generasi yang produktif jumlahnya lebih besar dari generasi tua yang tidak produktif.
Menurut Rocky tidak ada bonus demografi, karena bonus hanya didapat kalau ada investasi, sementara pemerintah Indonesia tidak melakukan investasi secara serius. Istilah bonus demografi, menurut Rocky juga tidak tepat, karena seharunya disebut sebagai ‘’demographic devidend’’ atau deviden demografi, karena deviden didapat dari hasil investasi.
Mengatasi kondisi politik Indonesia yang karut marut, Daniel Rosyid mengajukan gagasan untuk kembali kepada UUD 1945, dan kembali kepada sistem ekonomi Pancasila sebagaimana yang digagas oleh Mohammad Hatta yang menjadikan koperasi sebagai soko guru ekonomi.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi