Etnis China yang dominan juga punya bahasa dengan dua dialek yang sangat berbeda, yaitu dialek Hokian dan Mandarin. Lee Kuan Yew beretnis China tapi dia lahir dari keluarga saudagar kelas menengah yang setiap hari menggunakan bahasa Inggris, sehingga Lee tidak bisa berbahasa Mandarin maupun Hokian. Lee harus mengikuti kursus privat untuk menguasai bahasa China.
Persoalan bahasa nasional menjadi masalah serius. Banyak lidah, satu bahasa, ‘’Different tongues one language’’, itulah semboyan yang digaungkan Lee Kuan Yew. Dia tidak bisa memilih satu bahasa etnis karena akan mengecewakan etnis lainnya. Akhirnya semua bahasa ditampung menjadi bahasa resmi, Bahasa Melayu, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, dan Bahasa Tamil adalah bahasa resmi Singapura. Untuk bahasa nasional diputuskan Bahasa Melayu sebagai bahasa nasional.
BACA JUGA: Sembrono
Singapura hanya sebuah pulau kecil dengan penduduk total 4 juta orang. Sebegitu pun mereka tidak bisa menetapkan bahasa persatuan. Untunglah Lee Kuan Yew bisa mempersatukan bangsanya melalui pembangunan ekonomi yang dijalankan dengan disiplin tinggi dan keras, sehingga bangsa Singapura masih bertahan sampai sekarang.
Bangsa Indonesia tidak menghadapi kesulitan dan perdebatan sebagaimana yang dialami oleh Singapura. Para pemuda Indonesia ketika itu sadar dengan sepenuh kesadaran bahwa bahasa adalah unsur pemersatu yang mutlak untuk bisa merekatkan bangsa yang sangat beraneka.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi