KEMPALAN: Nama Amir Syarifuddin mungkin masih menuai kontroversi karena klaim keterlibatannya dalam kasus Madiun tahun 1948. Bahkan pribadinya juga masih menjadi perdebatan bagi sejumlah tokoh, termasuk pionir kajian Indonesia dari Amerika Serikat, George McTurnan Kahin.
George menuangkan kisah pertemuannya dengan Amir dalam bukunya Southeast Asia: A Testament, sebuah otobiografi kehidupannya yang bersentuhan dengan kawasan Asia Tenggara, salah satunya adalah Indonesia.
Dalam buku tersebut, sang Indonesianis mengatakan dirinya bertemu Amir di rumahnya. Sikap Amir cukup mengejutkan George karena menerimanya dengan hangat dan menawarkan rokok (sebuah tindakan yang belum pernah dilakukan oleh orang Indonesia lainnya).
“Dia orangnya nyantai dan ramah,” ingat Kahin dalam buku itu terkait pertemuannya pada 27 Agustus 1948.
Ketika Kahin bertandang ke rumahnya, Amir mengulas tentang politik Amerika Serikat dan dampaknya pada Indonesia, yang pada saat itu masih berjuang mempertahankan kemerdekaannya usai kejatuhan Jepang dan kembalinya Belanda. Amir, menurut penuturan George, berpendapat bahwa bakal calon dari Republikan, Thomas Dewey, akan dijadikan capres partai itu. Sebuah prediksi yang terbukti meleset, karena Partai Republik menominasikan Harry Truman sebagai capres mereka.
Kahin menceritakan, dua hari setelah pertemuannya, Amir menyatakan bahwa dirinya akan Partai Sosialisnya akan bergabung dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Partai Buruh. Ia juga mengaku, dirinya sudah bergabung dengan PKI bawah tanah di Surabaya semenjak 1935.
Pengumuman ini membuat Kahin bertanya-tanya apakah benar Amir Syarifuddin, yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri kedua Republik Indonesia merupakan anggota PKI. Untuk itu, ia berbincang dengan sejumlah tokoh nasional lainnya seperti Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir dan Sukarno.
“Tidak ada yang percaya bahwa Sjarifuddin adalah seorang Komunis, Mereka semua menunjukkan bahwa pada masa sebelum perang, banyak nasionalis non-Komunis yang bekerja sama dengan Komunis,” tutunya.
Adapun Kahin mencatat bahwa Hatta pernah menyampaikan, “dia terlalu religius untuk jadi seorang Komunis sejati.” Penulis buku Nationalism and Revolution in Indonesia ini juga menuturkan, Hatta sempat marah kepada Jenderal A. H. Nasution dan Kolonel Gatot Subroto karena mengeksekusi Amir tanpa diadili terlebih dahulu, walaupun ia menganggap Amir adalah rival politik terbesarnya pada saat itu.
Bahkan, perwakilan Amerika Serikat untuk Komisi Jasa Baik dari Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menyelesaikan permasalahan Indonesia, Frank Graham, tidak menolerir pandangan bahwa Amir adalah seorang Komunis. Hal ini disebabkan kedekatannya dengan Amir ketika bekerja dalam posisi tersebut.
Amir Syarifuddin adalah di antara nama-nama yang disebutkan oleh George Kahin pada bagian ucapan terima kasih dalam bukunya Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia, bersama dengan sejumlah nama lain yang menjadi tokoh maupun pahlawan nasional Indonesia. (Reza Hikam)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi