Sungguh, bahasa Jawa, bahasa Ibu-nya orang Jawa, sebenarnya mempunyai kekayaan kosa kata yang tiada bandingnya. Jika mau jujur, saya sebagai penulis sastra (media Indonesia dan Jawa), merasakan bahwa ungkapan dalam kosa kata sastra Jawa, memang lebih terasa indahnya. Bahkan kosa-kotanya, terkadang sulit diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.

Bahkan di Surabaya ini masih ada dua majalah berbahasa Jawa yang tetap terbit, di tengah gempuran majalah dan koran berbahasa Jawa, serta media-sosial di ranah dunia maya. Dua majalah berbahasa Jawa itu: Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Lantas melalui dua majalah berbahasa Jawa inilah yang kemudian sastra Jawa di Jawa Timur kian bertumbuh-kembang hingga sekarang ini. Sastra Jawa di Jatim tetap eksis dan tidak mengalami krisis. Sastra Jawa masih ada.
BACA JUGA: Antologi Puisi Warumas: Dari Malsalis hingga Kucinta Negeri Kutulis Puisi
Sebagai orang Surabaya dan Jawa Timur, maka haruslah bangga atas dua majalah itu. Lantas kita ikut serta menulis dan membaca, agar kita tak kehilangan ke-Jawa-an kita. Semoga!

Tulisan pendek ini hanya sekadar mengantarkan beberapa guritan/puisi berbahasa Jawa dengan gagrag anyar, yang akan dimuat di Kempalan.Co kali ini. Adapun penulisnya ada nama: Widodo Basuki ( Raja Guritan Jawa Timur), Aming Aminoedhin, dan Herry Lamongan. Berikut ini guritan-guritan mereka itu:

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi