Sabtu, 9 Mei 2026, pukul : 01:52 WIB
Surabaya
--°C

Catatan Khusus tentang ke-pribumi-an

Oleh : Sofyan Said
(Alumni F. E Unibra dan IKIP Malang)

KEMPALAN: Tak pernah tuch ada orang yang mempertanyakan ke-pribumi-an orang Palembang yang nenek moyang pribuminya dahulu kawin dengan muslim Cina ex-rombongan pasukan Cheng Ho yang tidak pulang ke Cina, atau orang Manado yang kakek moyang nya ada Jepang dan/atau Belanda-nya? Seperti itulah para pribumi keturunan Arab. Malahan, karena kakek moyang dari pribumi keturunan Arab sejak abad ke 8 datang sudah datang ke nusantara memperkenalkan agama Islam dan bahasa Aceh kuno yang mereka perkaya dengan 50% lebih kosa kata Arab dan lebih dikenal sebagai bahasa Melayu (info: Disertai Dr. Mukti Ali, IAIN Sunan Kalijogo Yogyakarta, 1970), suatu hasil sintesa bahasa yang sudah tuntas dan menjadi lingua franca di seluruh nusantara sebelum abad pertengahan (1500 M). Karena para pendatang Arab itu hanya terdiri atas pria saja, maka mereka kemudian kawin mawin dengan para muslimah asli lintas suku se-nusantara. Dengan latar belakangnya yang demikian, maka baik secara sosiologi maupun anthropologi, tak ada istilah yang lebih tepat untuk menyebut para keturunan Arab di Indonesia itu selain Pribumi.

Mereka tak bisa disamakan dengan komunitas Cina atau India yang yang datang ke nusantara sebagai keluarga utuh dan selalu kawin dengan sesama ras bangsa nya dan terus berpegang erat pada tradisi dan agama leluhurnya yang non muslim dan tak pernah kawin mawin dengan pribumi. Mereka yang seperti itu meskipun WNI, sebenarnya tak bisa disebut keturunan Cina atau India. Lebih tepatnya mereka adalah orang Cina atau India WNI kelahiran Indonesia, sebab DNA mereka pun 100% masih sama dengan orang-orang di negara asal nenek moyang nya. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.