“Bukan begitu, Pak…” kata Bang Eel.
“Terus gimana? Ini sudah berantakan kalian buat. Gara-gara berita kalian.”
Saya tak tahan juga untuk tak menjawab. ”Pak Guntur, di kode etik kami ada aturan bahwa wartawan tak menerima imbalan apa pun untuk memberitakan atau tak memberitakan sesuatu. Itu jelas, Pak. Jadi, Pak, tak perlu menawarkan apa-apa pada kami, terkait apa-apa yang harus kami beritakan atau tak kami beritakan…”
”Anda jangan mengajari saya, Bung. Kami di polisi juga punya kode etik, bukan wartawan saja, kami juga punya kehormatan…. Ini kalau saja saya sedang berurusan dengan penjahat sudah senjata yang bicara!” lalu Kombes Pol Guntur bicara panjang, sampai berdiri, sampai mengeluarkan pistol dari tas tangannya dan meletakkannya di meja.
“Pak, mohon pistolnya dimasukkan aja… Soal mobil ini saya ada usul solusinya,” kata Bang Eel.
BACA JUGA: Siapa Membunuh Putri (14)
Saya tak lagi bisa menyimak dengan jernih. Saya gentar dan takut. Juga menyesal. Bukan menyesali berita mobil bodong itu, tapi menyesal tadi kenapa saya menjawab dengan pasal kode etik. Kemarahan Kapolresta reda setelah kami sepakat untuk tak memberitakan itu lagi. Bang Eel bahkan menyarankan satu solusi lain.
“Begini, Pak. Bapak saya kira bisa minta ke salah seorang pengusaha besar di sini untuk mengakui bahwa mobil-mobil itu adalah sumbangan mereka,” kata Bang Eel.
Kombes Pol Guntur tertarik dengan usul itu. ”Bagus juga. Kalian bantu atur ya, nanti ketemu dan bicara dengan Iptu Binsar ya, Kasi Humas kita..” ujarnya.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi