Saya dan Bang Eel bersitegang setelah Kapolresta meninggalkan kantor kami. Saya tak setuju dengan usulnya tadi. ”Buat apa kita repot-repot urus masalah mereka, Bang…”
”Kalau kau tak mau, kau tak usah ikut repot. Biar saya yang urus. Kau tak lihat gimana marahnya Pak Guntur tadi? Untung tadi kita ketemu di kantor kita, kalau di tempat lain, sudah habis kita. Kita harus kompromi juga. Saya cemaskan teman-teman kita di lapangan, Dur.”
”Tapi dia menghina profesi kita, Bang. Dia pikir semua wartawan bisa dibeli apa…”
BACA JUGA: Siapa Membunuh Putri (13)
”Kita sesekali harus kompromi juga, Dur. Tadi kan kita tak bicara soal berita Putri. Kita hajar terus. Tak bisa dia atur kita soal itu. Soal mobil bodong, kita bantu polisi,” kata Bang Eel.
Kompromi? Ini yang sering menggelisahkan saya. Di mana batasnya saya sebagai wartawan membuka diri untuk mau berkompromi? Apa yang dikompromikan? Idealisme? Sampai mana batasnya? Saya memilih untuk tidak pernah melakukannya. Sering saya dengar orang di luar bilang saya tak bisa dibeli, tak bisa ditakar. Banggakah saya? Sama sekali tidak. Bukankah seharusnya memang begitu seorang wartawan bekerja.
Bang Eel menelepon Bang Ameng. Mereka bicara lama.
Sore itu di Mapolresta. Bang Ameng, Kasi Humas Polresta Borgam, dan beberapa pengurus asosiasi pengusaha Borgam memberikan keterangan kepada wartawan bahwa mobil-mobil yang dikirim ke mabes Polri di Jakarta itu adalah sumbangan mereka, dengan fasilitas pembebasan pajak khusus dari kementerian keuangan. Ada kepala kantor Bea dan Cukai hadir membenarkan keterangan itu.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi