CCTV
KEMPALAN: SAYA tidur di kantor lagi. Sementara. Paling tidak sampai Ferdy dapat sewa rumah. Tapi saya tak memberinya batas waktu. Badai hidupnya jauh lebih besar. Dia lebih memerlukan tempat berlindung, bersama anak, istri, dan janin yang dikandung istrinya, ketimbang saya.
Lagi pula di kantor nyaman, ada AC, di rumah hanya ada kipas angin bekas yang kubeli di kawasan barang bekas Bongkeng Seken. Sebuah kawasan abu-abu yang lain lagi di kota pulau ini. Perabot di rumah kontrakanku itu, yang tak banyak itu, semua kubeli di sini.
Ketika saya berbelanja di sana, banyak kutemui tentara di sana, duduk, mungkin berjaga, dengan senjata panjang, sambil berbincang akrab dengan para pedagang yang umumnya, kalau tidak semuanya, mereka dari Sulawesi itu. Kata Ustad Samsu, yang juga dari Sulawesi itu, kalau berbelanja di situ cobalah tawar dengan bahasa Bugis, maka barang yang sudah murah bisa jadi jauh lebih murah. Barang-barang untuk pesantren Alhidayah banyak yang dia beli di situ.
BACA JUGA: Siapa Membunuh Putri (12)
Malam itu Yon datang ke kantor. Ia tahu saya tidur di kantor. Ia ajak saya menonton Katon Bagaskara di It’s No Name Café. Di kota ini, kafé yang selalu ramai itu popular dengan singkatannya, Inn Café. Secara berkala mereka datangkan artis dari Jakarta.
Yon masih di Metro Kriminal, tapi kami masih sering ketemu. Di Inn Café, Yon sudah seperti lurahnya. Uangnya tak laku. Kasir menolak tiap kali ia bayar tagihan. Kata Yon, sebagai gantinya ia bernyanyi dengan home band, dua tiga lagu jadilah. Yon menang banyak tiap malam. Makan minum gratis, bisa tampil nyanyi lagi. Paling dia kasih tip buat cewek pendamping. Dalam hal ini seleranya bagus dan dia royal kasih tip. Untungnya Yon, penyanyi yang baik. Saya kira banyak juga penggemarnya di antara para pengunjung rutin.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi