Iwan Budianto, misalnya, tercatat sebagai pemegang saham mayoritas di Arema FC. Selama bertahun-tahun Iwan Budianto menjadi CEO Arema FC dan ‘’merangkap’’ menjadi wakil ketua umum PSSI. Dengan posisi semacam ini conflict of interest sulit dihindarkan, apalagi Iwan Budianto dikenal sangat powerful di PSSI dan disebut-sebut sebagai ‘’the real ketua’’ atau ketua de facto.
Hal yang sama terjadi pada banyak klub lainnya. Haruna Soemitro menjadi anggota Exco PSSI dan merangkap menjadi manajer Madura United. Secara resmi Haruna sudah tidak memegang jabatan manajer lagi tetapi dia tetap menjadi orang paling berpengaruh dalam operasionalisasi klub. Hal yang sama juga terjadi pada Yoyok Sukawi dan PSIS Semarang, dan beberapa klub lainnya.
BACA JUGA: Pak Aom
Pemberantasan mafia bola dilakukan seperti hangat-hangat tahi ayam, tidak pernah dilakukan dengan serius dan tuntas. Beberapa waktu yang lalu Najwa Shihab membuat serangkaian talk show membahas mafia bola. Berbagai tanggapan muncul dan kemudian PSSI pun merespons. Tapi, setelah itu reda lagi.
Sejarah mafia bola di Indonesia sudah merentang jauh sepanjang umur sepak bola itu sendiri. Di masa lalu Indonesia diguncang oleh skandal suap yang melibatkan Ramang sang legenda sepak bola Indonesia yang tidak ada duanya. Kalau sekarang Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo dikenal sebagai GOAT (greatest of all time) pemain terbaik dunia sepanjang masa. Maka pada dekade 1950-an Ramang adalah GOAT Indonesia dan Asia, atau sangat mungkin kelas dunia.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi