Tradisi ini diciptakan oleh orang-orang miskin, tapi kemudian berkembang menjadi industri olahraga yang besar dan sangat menguntungkan. Ketika sudah berkembang maka klub-klub sepak bola berubah menjadi korporasi trans-nasional yang mengelola aset miliaran dolar. Orang-orang miskin pun terpinggirkan dan kembali menjadi penonton pinggiran.
BACA JUGA: Perang Digital
Fenomena ini mirip dengan yang terjadi dengan Citayam Fashion Show. Mulanya hanya menjadi ajang menongkrong, tapi setelah viral dan menjadi besar diambil alih dan hendak dicuri oleh orang-orang kaya. Sekarang bukan hanya anak-anak Citayam yang ingin berjalan di atas jalan kucing ‘’catwalk’’ SCBD, model-model profesional dan selebritas kelas atas pun mulai berdatangan dan mengambil alih pertunjukan.
Orang-orang elite dan anak-anak Jakarta Selatan yang datang dari kalangan ‘’upper class’’ sekarang mulai melakukan invasi. Ajang CFW yang semula menjadi sub-kultur–untuk melawan kultur besar yang sudah mapan–akhirnya harus terkooptasi oleh kultur mainstream yang elitis. Tapi, anak-anak Citayam itu pasti akan punya cara tersendiri untuk melawan kooptasi itu. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi