Air itu memancar menjadi oase kehidupan. Padang gersang itu menjadi pusat peradaban besar yang mengubah konstelasi geopolitik internasional untuk selama-lamanya. Dari padang bersang itulah kelak lahir keturunan Ismail bernama Muhammad yang melakukan transformasi sosial-budaya dan menjadikan kota gersang itu sebagai sentra peradaban dunia.
Ismail sebagai suksesor Ibrahim harus menjalani ujian sebelum siap melanjutkan misi dakwah. Seorang anak remaja yang tumbuh gagah dan menyenangkan, kasih sayang Ibrahim tercurah kepada anaknya. Tapi, Allah memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih anaknya, untuk mengorbankan harta yang paling dicintainya. Manusia modern diperbudak oleh harta, kemewahan, jabatan, kekuasaan, dan status-sosial. Itulah ‘’ismail-ismail modern’’ yang harus disembelih.
Ibrahim ayah yang demokratis. Ia bertanya bagaimana pendapat anaknya mengenai perintah penyembelihan dari Allah. Ismail, generasi milenial yang menghormati ayahnya, yakin akan kebenaran perintah itu dan bertawakal untuk menerima konsekuensinya. Ketika Ismail sudah tertelentang dan belati Ibarahim siap menggorok leher anaknya, ternyata belati itu tidak bisa menedas leher Ismail. Tetiba muncul seekor domba sebagai pengganti.
Ibarhim lolos dari vonis mati pembakaran, Ismail lolos dari penyembelihan. Dari Ismail kemudian berkembang biaklah klan Ibrahim menyebar dalam jumlah yang sangat banyak sebanyak ‘’butir pasir di pantai’’. Ibarhim lalu diperintahkan untuk menyeru manusia supaya berhaji ke lembah gersang itu.
Kini, empat juta orang setiap tahun berkunjung ke lembah gersang itu untuk melaksanakan ritual menyusuri perjalanan hidup Ibrahim. Mereka menemukan kebenaran iman dan rasionalitas ditemukan dalam jejak perjalanan kehidupan Ibrahim itu. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi