Senin, 1 Juni 2026, pukul : 16:35 WIB
Surabaya
--°C

Ibrahim

Ibrahim kemudian menyadari bahwa ada zat maha kuasa yang mengatur bintang gemintang dan tata cakrawala itu. Ia kemudian berseru untuk menghadapkan wajahnya kepada zat yang Maha-Mengatur tata surya itu. Ibrahim menyatakan tidak akan mengikuti ideologi politeisme yang musyrik.

Dalam episode berikutnya Ibrahim mempertanyakan bagaimana Tuhan menghidupkan orang mati. Life after death, kebangkitan kembali pasca kematian menjadi sentra perdebatan antara iman dan rasionalisme ilmu pengetahuan. Ibrahim mengalami hal yang sama, ia membutuhkan bukti untuk memperkuat imannya.

Pengalaman adalah sumber pengetahuan, kata John Locke. Maka Ibrahim mendapatkan pengetahuan itu dari pengalamannya. Ia memotong burung menjadi beberapa bagian dan menempatkannya terpisah di beberapa bukit yang terpencar. Hanya dengan sekali isyarat tepuk tangan serpihan burung itu berkumpul menjadi satu burung yang hidup.

BACA JUGA  Sabet Golden Ticket Unesa dan Tembus Skuad Uber Cup 2026, Thalita Ramadhani Berkilau di Jalur Prestasi Dunia dan Akademik

Kehidupan rumah tangga Ibrahim menjadi sebuah fragmen tersendiri dalam memperkuat tauhidnya. Ia telah menikah sekian lama tapi tidak mempunyai anak. Ketika anaknya lahir, Ibrahim harus bertransmigrasi dari Palestina ke Bakkah. Lazimnya transmigrasi bergerak dari tempat yang kering ke tempat yang lebih subur. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Ia meninggalkan tanah Palestina yang subur dan meninggalkan istri beserta bayinya di sebuah pada pasir sepi, gersang, tanpa air dan tanpa sebatang pohon pun.

Di lembah itu terdapat ‘’Rumah Allah’’. Disitulah Ibrahim mendirikan rumah pertama untuk keluarga kecilnya. Itulah rumah pertama yang dibangun untuk manusia. Dari sebuah tempat yang gersang dan kering kerontang itulah tumbuh peradaban besar dunia, yang akan bisa mengalahkan dua peradaban super power dunia, Romawi di Barat dan Persia di Timur.

BACA JUGA  KEAJAIBAN HONDURAS: Monster Baru IFA7 Lahir dari Kampung, Indonesia Kubur Brasil Lewat Drama Penalti!

Dari lembah gersang itulah Ismail sang bayi memancarkan air kehidupan untuk kemanusiaan dan peradaban. Kaki kecil bayi mungil itu menjejak pasir di bawahnya. Sang ibu, Siti Hajar, yang panik melihat bayi yang menangis keras karena kelaparan dan kehausan berlarian dari satu bukit lainnya. Pada etape ketujuh sang ibu terkejut karena dari kaki kecil si orok muncul rembesan air. Sang bayi terus menendang-nendangkan kaki mungil ke pasir. Air merembes menjadi sumber, Siti Hajar berseru girang, ‘’Zam, zam, memancarlah, memancarlah’’.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.