Ibrahim memulai dengan memperkuat keimanan pribadinya. Di tengah kehidupan masyarakat pagan yang penuh dengan kemusyrikan, Ibrahim mempertahankan dirinya sebagai manusia yang ”hanif’ dan ”muslim”. Hanif adalah hati yang murni tidak dikotori oleh syirik. Muslim artinya berserah diri total kepada Allah Yang Esa.
Kisah Ibrahim yang menghancurkan patung-patung yang menjadi sesembahan kaumnya menjadi contoh bagaimana Ibrahim mempergunakan rasio dan logikanya untuk menemukan tuhan. Ia lahir di lingkungan penyembah berhala. Azar, orang tua Ibrahim, bukan hanya seorang penyembah berhala, tetapi juga seorang arsitek pembuat patung batu untuk dijadikan berhala.
Ibrahim menghancurkan semua patung dan membiarkan satu patung paling besar sendirian. Ibrahim meletakkan palu dan alat pemukul di pangkuan arca besar itu. Ketika diadili oleh pengadilan raja, Ibrahim berkilah bahwa patung terbesar itulah yang menghancurkan seluruh patung yang ada di ruangan itu. Ibrahim meminta hakim supaya bertanya kepada sang patung besar.
Hakim tidak mungkin bertanya kepada patung karena patung batu tidak mungkin bisa berbicara untuk memberi kesaksian. Ibrahim berargumen, kalau patung tidak bisa berbicara, mengapa disembah sebagai tuhan. Argumen Ibrahim ini menohok langsung dengan mengggunakan logika dan rasionalitas.
Pembelaan Ibrahim ditolak dan ia dijatuhi hukuman mati dengan cara dibakar hidup-hidup. Tetapi, api tidak membakar Ibrahim dan ia selamat dari hukuman mati. Api yang membakar dan menghancurkan tidak bisa menyentuh badan Ibrahim. Hukum dunia yang berdasarkan kausalitas tidak berlaku dalam kasus Ibrahim.
Pemikir Islam terkemuka Imam Al-Ghazali (1058-1103) tidak percaya terhadap hukum kausalitas. Dalam sebuah pernyataan yang masyhur Al-Ghazali mengatakan bahwa kertas yang terbakar tidak disebabkan oleh api, dan api tidak menjadi sebab kertas terbakar. Pernyataan ini sering disalahpahami sebagai bukti bahwa Al-Ghazali anti-ilmu pengetahuan dan lebih berfokus pada ilmu tasawuf.
Ibrahim berkontemplasi, berkhalwat, melakukan observasi untuk mencari Tuhan. Al-Quran mengisahkan perjalanan Ibrahim melihat bintang dan berkata ”Inilah tuhanku”, tapi bintang kemudian tenggelam dan keyakinannya pun ikut tenggelam. Terbitlah bulan yang bersinar lebih terang, tapi kemudian hilang ketika pagi muncul. Lalu muncullah matahari dan Ibrahim ”Inilah tuhanku, ini lebih besar”. Tapi matahari juga tenggelam.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi