Jumat, 8 Mei 2026, pukul : 07:04 WIB
Surabaya
--°C

Astaghfirullah, Negara Kalah Lawan Mafia

CATATAN: Ilham Bintang

KEMPALAN: Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi di dalam rapat Komisi VI DPR-RI, Kamis (17/3) malam, mengakui tidak bisa mengatasi penyimpangan distribusi minyak goreng yang terjadi di lapangan. Wakil Ketua DPR RI, Rachmat Gobel, menganggap itu sudah bentuk kekalahan negara
melindungi rakyatnya.

Astaghfirullah! Ungkapan ini lazim diucapkan oleh umat Islam. untuk meminta maaf atau memohon ampunan kepada Allah atas keadaan tak nyaman yang dirasakan.

“Bukan Mendag yang bilang kalah lawan mafia. Yang Pak Lutfi bilang, perbedaan harga yang tinggi di dalam dan di luar negeri dimanfaatkan oleh mafia untuk menimbun maupun berbuat kecurangan untuk ekspor. Juga oleh orang- orang rakus. Urusan itu sedang ditangani oleh Polri,” kata Sekjen Kementerian Perdagangan. Suhanto, yang dihubungi Jumat (18/3) pagi, meluruskan.

Sulit Diterima Akal Sehat

Lebih 4 bulan pihak Kemendag telah berusaha keras mengatasi kelangkaan dan meroketnya harga minyak goreng, namun berujung dengan kenyataan pahit itu. Sulit diterima akal sehat Mendag yang didukung perangkat kekuasaan negara kalah lawan mafia. Muhammad Lutfi tidak menyebut seperti apa wujud mafia yang dimaksud, dan seberapa besar kekuatannya sampai pihaknya kalah. Yang pasti, setelah dipanggil menghadap Presiden Jokowi Selasa (15/3), esoknya Mendag pun mengibarkan “bendera putih”. Lutfi mencabut peraturannya terkait Harga Eceran Tertinggi (HET) minyak goreng curah dan kemasan yang berlaku sebelum ini.

BACA JUGA: Bertabur Bintang Jelang Ramadan

Sejak 16 Maret, HET minyak goreng kemasan yang semula ditetapkan Rp. 14 ribu kini dilepaskan mengikuti harga keekonomian. Tidak lama setelah itu, minyak goreng kemasan itu pun mengisi rak-rak pasar modern dengan harga baru, paling murah Rp. 24 ribu/ perliter. Menurut Suhanto, yang dipertahankan hanya HET minyak goreng curah. Itu saja pun harganya naik menjadi Rp.14 ribu dari semula Rp.11,500.-

Suasana Antre 1965

Krisis minyak goreng di Tanah Air, menyebabkan beberapa bulan ini rakyat mengalami seperti kembali ke suasana kehidupan menjelang pengkhianatan G-30-S/ lPKI di tahun 1965. Tidak hanya minyak goreng, tetapi hampir semua harga bahan kebutuhan pokok masyarakat tak terkendali. Mulai dari tempe tahu, telor, daging sampai cabe rawit.

Presiden Tak Tanggap

Tidak seperti biasanya, untuk pertama kalinya pula Presiden Jokowi tidak cepat tanggap. Seperti sewaktu sukses mengintervensi harga -harga fasilitas dan alat -alat kesehatan melawan virus Covid19 yang harganya mencekik leher rakyat. Pemandangan antrean minyak goreng yang terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia, tak mengusiknya dari kesibukan persiapan GP Mandalika dan acara berkemah di kilometer nol Ibu Kota Negara (IKN).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.