Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, diadili oleh Kongres Amerika untuk mempertanggungjawabkan kebocoran ini. Zuckerberg mengakui telah terjadi kebocoran dan meminta maaf kepada publik atas kejadian ini. Ternyata data-data dari Facebook tidak hanya dijual kepada Trump tapi juga kepada politisi lain seperti politisi senior Ted Cruz yang memakainya untuk memenangkan pemilihan anggota Kongres.
BACA JUGA: Bangsa Kuli
Hal yang sama terjadi di Inggris pada 2016 ketika terjadi referendum Brexit untuk memutuskan Inggris keluar dari Uni Eropa atau tidak. Cambridge Analytica memakai modus yang sama untuk memengaruhi rakyat Inggris supaya memilih ‘’out’’ dalam referendum. Cambridge Analytica bisa memasukkan message secara langsung dan personal kepada pemilih dengan memanfaatkan data yang dikumpulkan secara diam-diam. Dengan demikian publik bisa dipengaruhi secara personal, dan pendukung Brexit akhirnya menang.
Pemerintah Amerika khawatir modus semacam ini akan terjadi di seluruh dunia. Karena itu, dalam laporan tahunan 2021 Amerika mengecam penerapan aplikasi Peduli-Lindungi di Indonesia dan menyebutnya sebagai pelanggaran hak azasi manusia.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi