Bagaimana mungkin bangsa yang besar ini dikelola oleh mereka yang berjiwa kerdil dan intoleran? Seolah bisa sendiri, menganggap mereka yang tak sejalan adalah musuh? Tentu sangat naif, bila bangsa sebesar ini diserahkan kepada mereka yang kerjanya mencari panggung ditengah keberhasilan orang lain, tak ada karya kecuali hanya menjual isu intoleran. Bukankah manusia itu dinilai sikapnya dari apa yang selalu disuarakan. Jangan – jangan ketika kita berteriak intoleran kepada orang lain, justru itulah kita.
Ada baiknya juga anak – anak muda politisi PSI belajar dan membaca kisah – kisah Sumpah Pemuda, dan pergolakan bangsa ini hingga bisa mencapai kemerdekaannya, tak ada yang merasa benar sendiri, tak ada yang merasa paling baik, mereka saling membuka ruang untuk berdiskusi dan menerima, karena dengan begitu akan ada energi yang saling mendekat untuk kepentingan bangsa yang lebih besar.
BACA JUGA: Anies Diserang, Anies Semakin Disayang
Bangsa ini sudah melewati fase fase dipecah belah oleh penjajah, terutama penjajah Belanda, lalu akankah kita robek lagi persatuan dan kemerdekaan yang telah dijahitnya? Tentu tidak, kecuali memang kita berpolitik bekerja untuk kepentingan penjajah dan asing serta aseng.
Membangun masa depan Indonesia jauh lebih penting daripada kepentingan sempit partai apalagi kepentingan pribadi yang diseolah – olahkan kepentingan partai dan negara.
Membuka ruang menerima, ruang berdiskusi untuk membangun masa depan bangsa adalah sebuah keharusan.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi