Contohnya, kemelut minyak goreng yang sudah lebih 6 bulan belum ketemu ujungnya. Itulah saya duga salah satu efek dari sebagian anggota kabinet bekerja sambil melaksanakan agendanya cari perhatian rakyat untuk menjadi presiden. Secara terselubung maupun terang-terangan. Tanpa malu memanfaatkan pelbagai fasilitas negara demi kepentingan ambisi pribadi semata. Abai mengira milik negara seakan milik keluarga.
Rakyat mendambakan harapan besar reshuffle akan membuat harga -harga bahan pokok bisa terkendali.
Akhir Maret lalu Presiden Jokowi bahkan mengancam juga akan mengganti menteri yang sering mengimpor barang kebutuhan di dalam lingkup kementeriannya yang membuat negara kesulitan keuangan. Presiden menyebut secara eksplisit nama menteri “pemakan” devisa itu. Yakni, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, dan Menteri BUMN Erick Thohir. Mendikbud Nadiem Makarim juga kena “damprat”. Lantaran baru membelanjakan 2 trilyun rupiah anggaran instansinya untuk barang produksi dalam negeri. Padahal, menurut ayah Gibran dan Kaesang itu, barang – barang impor yang digunakan untuk kegiatan operasional di kementerian sudah bisa diproduksi di dalam negeri.
“Tempat tidur untuk rumah sakit, produksinya saya lihat di Yogyakarta ada, Bekasi, Tangerang juga ada,” ujar Jokowi saat memberi pengarahan pada acara “Afirmasi Bangga Buatan Produk Indonesia ” di Bali yang disiarkan secara virtual Jumat (25/3).

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi