Namun, harapan tinggal harapan. Aroma mencla mencle tampak lagi dari hasil reshuffle kemarin. Hanya dua menteri kabinet yang diganti. Selebihnya ada tiga jabatan Wakil Menteri. Yang temanya lebih mengesankan sebagai politik akomodasi kepada partai pendukung pemerintah yang tidak cukup suara melenggang ke Senayan. Sama sekali tidak menampakkan arah untuk tujuan pemulihan ekonomi. Reshuffle kabinet hanya “rame ing media tapi sepi ing gawe” ( fakta) seakan menjelaskan dua hal. Pertama, hanya pintu masuk balas jasa atas peran dan kontribusi parpol-parpol sebagai jalan tol yang membawa Jokowi mulus ke kursi presiden dua periode. Kedua, ini dia : kok tercium aroma meminta balas jasa kembali. Terkesan Jokowi masih menyimpan keinginan terselubung untuk mendapat dukungan penambahan bonus periode ketiga lewat amandemen di parlemen. Minimal perpanjangan masa jabatan sampai 2027. Analisis itu kita bisa ikuti dari pernyataan sejumlah pengamat politik yang viral dalam percakapan di medsos.
Seperti biasa, Presiden Jokowi menyampaikan harapan kepada dua menteri baru pada momen pelantikan. Ada pula harapan yang dikemukakan dari pejabat baru untuk melaksanakan amanah.
Pengangkatan Zulhas karenanya bisa dianggap sebagai upah karena sudah sukses mewacanakan hal yang melanggar konstitusi yaitu perpanjangan masa jabatan presiden. Upah dari kerja sebagai “pesuruh” presiden padahal posisinya sebagai ketum parpol secara konstitusional lebih tinggi sebenarnya karena dialah pengusung presiden. Tidak ada jalannya seseorang bisa melenggang duduk di kursi istana tanpa dukungan parpol. Tapi begitulah candu kekuasaan. Di lain pihak karena mau balas budi Jokowi pun lupa agendanya mereshuffle kabinetnya untuk menghadapi tantangan ekonomi global.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi