HONOLULU-KEMPALAN: Banyak ilmuwan luar negeri, terutama dari Amerika Serikat, yang mengkaji Indonesia dan Asia Tenggara. Salah satunya adalah Barbara Watson-Andaya, Profesor Kajian Asia dari Universitas Hawaii di Manoa. Barbara adalah suami dari sejarawan sohor dari universitas yang sama, Leonard Yuzon Andaya.
Barbara meraih gelar sarjananya dari Universitas Sydney pada 1962, gelar magister dari Universitas Hawai’i di Manoa pada 1969 dan gelar doktor dari Universitas Cornell pada 1975.
Ia mengabdikan hidupnya untuk menuliskan sejarah Asia Tenggara yang membawa dirinya menjadi Direktur Pusat Kajian Asia Tenggara di Universitas Hawai’i di Manoa dan sebagai Presiden dari Perhimpunan Amerika untuk Kajian Asia pada tahun 2005-2006.
Mengutip dari laman resmi universitas tempat ia mengajar, Barbara mengampu empat mata kuliah, yakni Pengantar Kajian Asia, Agama-agama di Kepulauan Asia Tenggara, Permasalahan Kontemporer dalam Kajian Asia Tenggara, dan Globalisasi di Asia Tenggara.
Tidak hanya mengajar, istri Leonard Andaya ini juga aktif menulis dan menelurkan karya seperti Perak, the Abode of Grace: A Study of an Eighteenth Century Malay State yang diangkat dari disertasinya di Universitas Cornell; Other Pasts: Women, Gender, and History in Early Modern Southeast Asia.
Ada dua buku yang ia tulis bersama sang suami: A History of Malaysia dan A History of Early Modern Southeast Asia 1400-1830.
Dua karyanya yang lain diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, yakni To Live as Brother: Southeast Sumatra in the Seventeenth and Eighteenth Centuries yang diterbitkan Penerbit Ombak pada tahun 2016 dan The Flaming Womb: Repositioning Women in Early Modern Southeast Asia yang diterbitkan Komunitas Bambu pada 2021. Buku yang terakhir ini adalah hasil dari pendanaan penelitian yang ia raih dari Guggenheim Award pada 2000.
Selain itu…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi