Selain bersyukur atas karunia dan nikmat yang telah diberikan Allah SWT, ada juga sebagian manusia yang tidak atau enggan mensyukurinya. Mereka mengingkari nikmat-Nya. Mereka dinamakan kufur nikmat. Sesuai arti harfiahnya kufur berarti ‘menutup diri’. Mereka menunjukkan perilaku menutup diri, tidak mau menerima atau mengingkari kebenaran tentang Allah dan ajaran-ajaran Allah SWT yang diturunkan sebagai wahyu kepada manusia melalui rasul-rasul pilihannya.
Dalam hal ini, kufur atau kafir bisa dinisbatkan kepada mereka yang tidak beriman kepada Allah SWT dan ajaran-ajaran-Nya, atau kepada mereka yang walaupun beriman kepada Allah SWT tapi membangkangi ajaran-ajaran-Nya dan tidak bersyukur atas nikmat-Nya (ada istilah kufur akidah, kufur amal, atau kufur nikmat). Al-Qur’an juga mengenalkan konsep-konsep etis lain yang berhubungan dengan konsep kufur, seperti musyrik, fasiq dan zholim.
Menurut Imam Al-Ghazali, syukur tidak hanya diucapkan secara lisan, tetapi juga dengan perbuatan. Yakni menggunakan pemberian Allah SWT untuk hal-hal bermanfaat yang dikehendaki-Nya. Menurutnya, kufur nikmat disebabkan karena kebodohan dan kelalaian seseorang. Sedangkan menurut Syekh M Nawawi Banten tindakan ini hanya dilakukan oleh orang yang memiliki standar moral rendah.
Sikap mudah bersyukur berasal dari kerendahan hati dan kesadaran bahwa rezeki, ilmu dan kesehatan semuanya berasal dari Allah SWT. Oleh sebab itu Allah SWT akan memberikan tambahan nikmat bagi hamba-Nya yang pandai bersyukur, sedangkan mereka yang kufur akan menerima balasan yang pedih.
Segala hal yang tidak disukai Allah SWT tentu akan memiliki dampak negatif atau akibat buruk dari perbuatan tersebut. Begitu juga dengan orang yang tidak pandai bersyukur, pasti akan menanggung akibatnya. Akibat orang tidak pandai bersyukur adalah kebalikan dari manfaat yang didapatkan oleh orang yang senang bersyukur.
Rasa syukur adalah kunci kebahagiaan yang sayangnya tidak semua orang yang mampu menyadari dan menerapkannya. Sebagian bahkan tidak menyadari bahwa apa yang kita lakukan sehari-hari justru mencerminkan tanda kita kurang bersyukur, sehingga kita kesulitan untuk mendapatkan ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan dalam hidup. Bahagia bukan soal hidup yang sempurna, melainkan saat kita bisa menikmati dan mensyukuri sesuatu yang telah kita terima. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi