Itulah yang membuat Indonesia menjadi negara besar. Dengan keluasan wilayah yang masif dan dengan kekayaan alam yang melimpah Indonesia akan menjadi negara besar yang disegani bangsa-bangsa di seluruh dunia. Itulah yang disebut sebagai potentiality, kekuatan potensial yang tersembunyi yang harus diubah dengan kerja menjadi actuality. Disinilah pentingnya sebuah leadership, kepemimpinan, dari seorang pemimpin yang bisa mentransformasi potensialitas bangsa menjadi aktualitas nyata.
Bung Karno menggagas ‘’nation and character building’’, membangun bangsa dan karakter bangsa. Membangun bangsa adalah membangun birokrasi, infrastruktur politik yang kokoh sebagai prasyarat pembangunan nasional. Pembangunan karakter adalah membangun manusia Indonesia yang lengkap antara dimensi lahiriah dan spritualitas, inteleketualitas, dan budaya sebagai sumber dari gagasan-gagasan besar untuk pembangunan.
Sepeninggalan Bung Karno gagasan-gagasan besar tidak sepenuhnya mati, tapi direduksi menjadi sebuah kerja fisik yang disebut sebagai pembangunan. Bung Karno gagal karena terpeleset dengan memberi perhatian yang berlebih terhadap pembangunan politik. Politik sebagai panglima membuat pendekatan pembangunan nation and character building menjomplang dan tidak berimbang.
Orde Baru Soeharto lahir sebagai koreksi. Tapi yang terjadi adalah pergeseran pendulum dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya. Developmentalism ala Soeharto menggeser politik ke pinggiran dan memberi porsi terlalu besar kepada pembangunan ekonomi. Itulah yang menjadi salah satu faktor kegagalan Orde Baru. Pembangunanisme telah mereduksi gagasan dan menjadikannya mati.
Aristoteles membagi dimensi manusia menjadi tiga; making (membuat), doing (mengerjakan), dan knowing (memahami). Dimensi ‘’making’’ adalah kerja membuat sesuatu dari tidak ada menjadi tidak ada. Dari tidak ada bandara menjadi ada bandara. Dari tidak ada tol menjadi ada tol, dari tidak ada pelabuhan menjadi ada pelabuhan. Itulah dimensi making, membuat, kerja tukang.
Dimensi ‘’doing’’ melibatkan pertimbangan moral dan etika. Apakah pembangunan melibatkan semua orang secara demokratis dan memenuhi hak-hak manusia sebagai objek pembangunan. Kalau membangun hanya sekadar menggusur karena tidak sesuai dengan master plan, kalau membangun hanya sekadar mengusir karena tanah itu akan dijadikan waduk atau jalan tol, maka pembangunan adalah kerja ‘’making’’ tetapi tidak ‘’doing’’ karena dimensi moral dan etika yang hilang.
Dimensi ketiga adalah knowing. Disinilah gagasan menjadi penting. Knowing adalah proses untuk mendapatkan knowledge, pengetahuan. Disinilah intelektualitas menjadi penting. Karena dengan intelektualitas, gagasan bisa muncul dan kemudian diwujudkan dengan making dan dilengkapi dengan doing. Lengkaplaj manusia dengan tiga dimensi itu.
Bangsa Indonesia sudah…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi