Bangsa Indonesia sudah terlalu lama tereduksi dari tiga dimensi itu, dan kita rindu menunggu setetes air untuk menghilangkan dahaga itu. Kepemimpinan Anies Baswedan selama satu periode di Jakarta menjadi sebuah oase dari kekeringan panjang itu.
Anies seorang ‘’maker’’. Dia membangun. Anies seorang ‘’doer’’, dia tidak sekadar menggusur tapi memanusikan manusia. Pembangunan harusnya membebaskan, bukan mengancam, menggusur, dan merendahkan.
Anies juga seorang knower. Dia menjadikan knowledge untuk melakukan knowing. Pengetahuannya, intelektualitasnya melahirkan gagasan-gagasan besar yang orisinal.
Ketika hajatan politik 2024 semakin mendekat, banyak kandidat yang sibuk mengejar populatritas dan elektabilitas, lalu mengabaikan inlektualitas yang menjadi sumber gagasan. Para kandidat sibuk mengejar rating survei dengan proyek pencitraan setiap hari.
Anies mengedepankan intelektualitas dan tidak sekadar mengeksploitasi popularitas dan elektabilitas. Ada tipe manusia yang bekerja tanpa gagasan, mirip tukang. Ada pula yang banyak gagasan tapi tidak bisa bekerja alias omdo bin NATO, omong doang, no action talk only. Yang lebih parah lagi ada tipe manusia yang tidak bisa kerja dan tidak pernah punya gagasan.
Anies bekerja dengan gagasan dan mewujudkan gagasannya dengan bekerja. Anies ialah perpaduan antara man of ideas dan man of action, manusia gagasan dan manusia kerja. Jakarta International Stadium (JIS) adalah paduan gagasan dan kerja. Balapan Formula E adalah wujud nyata dari sebuah gagasan brilian dan visioner. Kampung Akuarium adalah manifestasi dari gagasan dan kerja. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi