KEMPALAN: Suatu masa ketika gagasan menjadi penting. Ketika kita hidup dengan kesibukan kerja, kerja, kerja. Membangun segala yang bersifat fisik, mulai dari jalan tol, pelabuhan, bandara, waduk, pabrik-pabrik untuk segala macam industri, sampai membangun ibukota baru. Kita menjadi lupa bahwa ada yang tidak kalah penting ketimbang sekadar membangun. Kita menjadi lupa bahwa gagasan sangatlah penting, karena gagasan memberi kelengkapan kepada dimensi manusia. Manusia bukan sekadar bentuk fisik, tetapi manusia juga punya unsur materi, spiritualitas, gagasan, ide-ide.
Semua perubahan besar yang terjadi di dunia, semua perubahan yang kita alami sebagai bangsa, adalah hasil dari sebuah gagasan. Bermula dari seseorang, atau sekelompok kecil orang, lalu pelan dan pasti merambat ke banyak orang, dan kemudian menjadi sebuah gerakan besar yang masif yang membawa kepada perubahan besar, sebuah kemerdekaan.
Indonesia adalah sebuah gagasan. Indonesia bukan sekadar sebuah wilayah dengan batas geografis, dengan penduduk, dan dengan pemerintahan, sebagaimana yang kita fahami mengenai definisi sebuah negara. Lebih dari itu, Indonesia adalah sebuah gagasan dari sebuah negara bangsa. Sulit membayangkan sebuah negara-bangsa yang lahir tanpa gagasan.
Nasionalisme, yang menjadi ruh negara bangsa, adalah sebuah gagasan. Nasionalisme adalah gagasan yang abstrak, yang hanya bisa kita bayangkan dalam sebuah bayang-bayang imajinasi. Bahwa kita semua–masyarakat yang membentang dari Miangas sampai ke Pulau Rote—adalah sebuah bangsa yang punya cita-cita bersama, sebuah cita-cita yang hanya ada dalam imajinasi kita, dalam gagasan-gagasan kita. Itulah yang menyatukan kita menjadi bangsa.
Ben Anderson menyebutnya sebagai ‘’Imagined Community’’, Komunitas Terbayangkan. Disebut demikian karena para anggota bangsa–dalam komunitas terkecil pun–tidak akan tahu dan kenal sebagian besar anggota yang lain, tidak akan bertatap muka dengan mereka, dan bahkan mungkin tidak pernah mendengar tentang mereka.
Indonesia adalah sebuah gagasan. Ketika pada awal 1920 sekelompok anak muda mahasiswa yang belajar di Rotterdan dan Den Haag yang dipelopori oleh Tjipto Mangunkusumo dan Soewardi Soerjoningrat memutuskan untuk memakai nama Indonesia sebagai ganti Hindia Belanda, saat itulah sebuah gagasan besar telah lahir.
Lahirlah ‘’Perhimpunan Indonesia’’, sebuah gagasan besar untuk menjadikan wilayah jajahan Hindia Belanda menjadi wilayah merdeka dengan nama Indonesia. Dari Perhimpunan Indonesia kemudian lahirlah Sumpah Pemuda pada 1928. Sumpah itu mempersatukan anak-anak muda dari wilayah-wilayah yang berserakan menjadi satu entitas yang disatukan oleh bahasa, bangsa, dan tanah air yang satu, Indonesia.
Gagasan-gagasan besar itulah yang kemudian memberi kekuatan kepada Sukarno, Hatta, Sutan Sjahrir, dan para founding parents kita untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 1945. Para founding fathers Indonesia adalah para pejuang cum intelektual. Mereka bertarung dengan perjuangan fisik, tetapi mereka juga berjuang dan bertarung melalui gagasan-gagasan.
Itulah yang membuat

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi