Menu

Mode Gelap

kempalanda · 19 Okt 2021 15:49 WIB ·

Meluruskan “Maulid dan Selawat”


					Kaligrafi Nabi Muhammad Saw. Perbesar

Kaligrafi Nabi Muhammad Saw.

Kholid A.Harras

Ketua Pimpinan Cabang Al-Irsyad Al-Islamiyyah Kota Bandung

KEMPALAN: Saat ini kita berada di bulan Rabiulawal, bulan ke-3 menurut takwim Hijriah. Menurut para ulama tarikh, pada tanggal 12 Rabiulawal Nabi Muhammad saw. dilahirkan di kota Mekah. Kelahiran dalam bahasa Arab disebut ‘maulid’. Oleh karena itu Rabiulawal oleh masyarakat Islam  dikenal juga sebagai “bulan maulid”.

Dalam KBBI penulisan yang baku adalah ‘maulid’. Bukan ‘maulud’ atau ’mulud’.  Dengan demikian kegiatan memperingati hari kelahiran Nabi (Muhammad saw.)  seharusnya dinamakan ‘bermaulid’. Jika diberi akhiran –an menjadi ‘maulidan’. Bukan ‘mauludan’ atau ‘muludan’. Lema  ‘maulid’ (noun) diberi penjelasan: hari lahir; tempat lahir; (peringatan) hari lahir Nabi Muhammad saw.

Salah satu kegiatan yang biasanya mengiringi kegiatan ‘maulidan’ antara lain berselawat untuk Nabi Muhammad saw.  Dalam  KBBI penulisan yang baku adalah ‘selawat’. Bukan ‘solawat’, ‘sholawat’ atau ‘salawat’. Lema ‘selawat’ (merupakan bentuk jamak dari salat) adalah: permohonan kepada Tuhan atau doa;  doa kepada Allah untuk Nabi Muhammad saw. beserta  keluarga dan para sahabatnya.

Pengertian selawat sebagai kegiatan berdoa (kepada Allah) yang diperuntukkan kepada Nabi Muhammad saw, keluarga dan para sahabatnya ini  merujuk pada surat Al-ahzab ayat 56: “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat (berdoa) untuk Nabi (Muhammad saw.). Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah (berdoalah) kamu untuk Nabi  dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya .”

Berdasarkan rujukan tersebut, selawat adalah perintah Allah dan merupakan sebuah doa kepada-Nya. Oleh karena itu, sebagaimana lazimnya sebuah doa maka  teks bahasa Arabnya diawali Allahuma, yang artinya “Semoga Allah”. Namun dalam kenyataannya kita sering mendengar sebagian umat Islam: pembawa acara, bahkan para ustad dan khotib, saat menyampaikan mukadimah menerterjemahan  selawat untuk Nabi Muhammad saw. ini  melesapkan atau menghilangkan frasa Allahuma atau “Semoga Allah”-nya.

Kita sering mendengar…

Artikel ini telah dibaca 374 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Tentang Suara

4 Desember 2021 - 12:24 WIB

Teladan Bagi Wanita Muslimah

30 November 2021 - 13:00 WIB

In Memoriam: Bens Leo, Wartawan Berpembawaan Tenang dengan Wajah Selalu Berhias Senyum

30 November 2021 - 11:18 WIB

Pada Sekerat Daging Ada Kezaliman yang Tak Termaafkan

29 November 2021 - 12:21 WIB

Keakraban yang Hilang

26 November 2021 - 09:26 WIB

Guru

25 November 2021 - 14:26 WIB

Trending di kempalanda