Menu

Mode Gelap

Kempalpagi · 8 Jan 2022 11:19 WIB ·

Layangan Putus


					Poster Layangan Putus. (WeTv) Perbesar

Poster Layangan Putus. (WeTv)

KEMPALAN: Setelah ‘’Ikatan Cinta’’ sekarang muncul ‘’Layangan Putus’’. Dua-duanya merupakan kisah drama rumah tangga yang menjadi serial sinetron yang bikin heboh. Setelah Ikatan Cinta mulai meredup, sekarang giliran Layangan Putus yang viral dimana-mana.

Ceritanya mengenai rumah tangga suami-istri yang semula bahagia tiba-tiba bergolak karena orang ketiga. Sang suami tergoda oleh perempuan lain, dan meninggalkan sang istri yang limbung seperti layangan putus.

Cerita perselingkuhan yang sebenaranya standar menjadi viral karena ‘’based on true story’’ didasarkan pada kisah nyata. Cerita ini semula ditulis di akun media sosial, kemudian mendapat respons luas sehingga viral, kemudian diangkat menjadi skenario sinetron.

Layangan putus secara harfiah berarti laying-layang yang putus benang, lalu terombang-ambing ditiup angin. Orang yang putus cinta bisa menjadi layangan putus. Mereka yang kena pemutusan kerja bisa menjadi layangan putus. Bahkan, para politisi pun bisa menjadi korban layangan putus.

Fenomena layangan putus bisa menjadi fenomena politik pada 2022 ini. Sebanyak 101 kepala daerah akan habis masa jabatannya secara serentak tahun ini. Seharusnya ada perhelatan pemilihan kepala daerah serentak untuk mengisi jabatan yang lowong. Tetapi, pemerintah sudah memutuskan menunda pilkada sampai 2024, sehingga menimbulkan fenomena layangan putus, karena banyak kepala daerah yang nasibnya tidak jelas.

Di antara para kepala daerah itu terdapat tujuh gubernur, termasuk di dalamnya Anies Baswedan dari DKI, Ganjar Pranowo dari Jawa Tengah, dan Wahidin Halim dari Banten. Anies dan Ganjar disebut-sebut sebagai calon presiden potensial pada 2024. Dengan pensiun pada 2022 banyak yang memperkirakan Anies dan Ganjar bakal kehilangan panggung.

Ada yang menyebut Anies dan Ganjar bakal meredup karena kehabisan baterei setelah pensiun. Tetapi, karena popularitas yang sangat konsisten dalam berbagai survei, Anies dan Ganjar bisa saja mendapatkan panggung baru dan baterei yang lebih besar untuk tetap berkiprah dan bersinar.

Kalau diibaratkan sebagai layangan putus maka Anies dan Ganjar adalah layangan indah nan memukau. Akan banyak orang yang mengejar dan berebut mendapatkan layangan putus itu. Akan banyak orang yang menyelematkan layangan itu untuk diterbangkan lebih tinggi.

Menganggur dua tahun setelah menjadi pejabat publik tertinggi di satu daerah pasti membawa implikias sosial, politik, ekonomi, dan psikologi yang rumit. Di antara sekian banyak kepala daerah itu banyak yang masih menjabat satu periode, sehingga masih punya kesempatan satu periode lagi untuk menjabat.

Para kepala daerah sebagai petahana tentu punya peluang sangat besar untuk memenangkan kontestasi periode kedua. Mereka punya panggung besar dan modal politik yang sangat besar untuk memenangkan kontestasi.

Tetapi, masa tunggu dua tahun diluar panggung bisa membuat para mantan kepala daerah itu mati gaya dan mati angin. Mereka bisa menjadi layangan putus yang ‘’kabut kanginan’’ terbang hilang terbawa angin.

Ada juga para kepala daerah yang putus jabatan di tengah jalan. Mereka yang memenangkan kontenstasi pilkada serentak pada 2019 dipaksa turun di tengah jalan pada 2024, berarti masa jabatan mereka tidak penuh lima tahun dan hanya menikmatinya selama tiga tahun.

Tentu ada problem penuntasan program pembangunan daerah yang harus diselesaikan. Program yang seharusnya disusun untuk masa lima tahun itu akan terputus dan mangkrak di tengah jalan. Kalau si petahana beruntung dan bisa menang, program akan berlanjut. Tapi kalau kalah dia akan menjadi layangan putus dan program pun mangkrak.

Layangan putus akan menjadi fenomena nasional. Banyak yang limbung dan terombang-ambing selama masa tunggu dua tahun. Dalam kondisi limbung karena fenomena layangan putus ini yang paling diuntungkan adalah pemerintah, karena mereka punya kewenangan penuh untuk menempatkan orang-orang sebagai kepala daerah sementara.

Dua tahun menduduki jabatan politik puncak di sebuah daerah adalah impian tertinggi bagi para politisi dan birokrat mana pun. Apalagi posisi puncak itu didapat secara gratis, tanpa ongkos politik yang terkenal sangat mahal.

Tentu saja para kepala daerah kiriman pusat itu akan loyal sepenuhnya kepada sang tuan. Hal itu akan melempengkan jalan untuk memobilisasi suara rakyat pada perhelatan politik 2024 yang sangat krusial.

Tidak ada makan siang yang gratis. Para kepala daerah hasil PL alias penunjukan langsung itu pasti harus membayar makan siang itu. Mereka adalah orang-orang pilihan yang sudah diseleksi dengan rapi dan dipastikan loyalitasnya. Ketika sampai saatnya rekening tagihan politik dikirim maka para kepala daerah PL itu akan cepat-cepat melunasinya secara GPL, gak pakai lama.

Partai penguasa…

Artikel ini telah dibaca 329 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Singapura

28 Januari 2022 - 11:09 WIB

Ekstradisi Para Bedebah

27 Januari 2022 - 11:15 WIB

Singapura-DW

Kebat Kliwat

26 Januari 2022 - 11:56 WIB

Jin Buang Anak

25 Januari 2022 - 11:14 WIB

Balapan

24 Januari 2022 - 10:46 WIB

Koruptor Milenial

23 Januari 2022 - 10:47 WIB

Trending di Kempalpagi