Menu

Mode Gelap

Kempalanart · 8 Jan 2022 11:34 WIB ·

Review Film Spider-Man: No Way Home


					Poster Spiderman: No Way Home. Perbesar

Poster Spiderman: No Way Home.

KEMPALAN: Januari ini, Spider-Man No Way Home (NWH) meraup lebih dari Rp 20 triliun di box office global. Sebuah pencapaian yang luar biasa, mengingat film ini rilis di era pandemi COVID-19.

Namun, jika angka itu belum meyakinkan Anda apakah sepadan untuk keluar ke bioskop saat COVID-19 masih menghantui, berikut adalah review bebas spoiler untuk Spider-Man: No Way Home.

Marvel Cinematic Universe (MCU) terkenal dengan film-film nya yang terhubung dalam satu dunia sinematik. NWH mengambil langkah lebih jauh sebagai film MCU pertama yang crossover dengan film di luar MCU, yaitu trilogi Spider-Man yang disutradarai Sam Raimi dan duologi The Amazing Spider-Man yang disutradarai Marc Webb.
No Way Home melanjutkan kisah Far From Home. Hidup Peter Parker (Tom Holland) terbengkalai ketika Mysterio (Jake Gyllenhaal) membongkar identitas rahasia nya sebagai Spider-Man ke seluruh dunia. Putus asa, Peter memohon Doctor Strange (Benedict Cumberbatch), sang Sorcerer Supreme, untuk merapal sihir dahsyat: hapuskan ingatan dunia tentang Peter Parker. Namun, mereka gagal memperhitungkan efek-samping sihir se-dahsyat itu.

Secara misterius, pendatang-pendatang dari dunia lain bertahap muncul, bingung, dan marah. Dan mereka semua ingin memburu Peter Parker.

Walaupun nilai akhir NWH sangat bagus, perlu untuk membuka review ini dengan kelemahannya. Kelemahan NWH sama seperti yang dialami Infinity War ataupun Endgame yang rilis di 2018 dan 2019. Kedua film itu hanya bisa dinikmati secara utuh jika sudah menonton film-film MCU yang mendahuluinya.

NWH juga sama, dengan total tujuh film yang mendahului. Mereka itu adalah trilogi Spider-Man karya sutradara Sam Raimi, duology The Amazing Spider-Man (TASM) karya sutradara Marc Webb, dan dua film MCU Spider-Man yang mendahului (Homecoming dan Far From Home). Untuk penonton awam, mungkin NWH akan terlalu membingungkan untuk bisa dinikmati. Namun beruntung, ini adalah satu-satunya kelemahan besar film ini.

Lanjut ke pujian untuk NWH. Ironisnya, walaupun NWH adalah film superhero, daya tarik utamanya adalah koleksi supervillain nya, lima total. Melihat film-film MCU lampau, supervillain bukanlah sisi terkuat mereka. Tentu semua orang ingat Thanos. Untuk generasi kita, bisa dibilang Thanos mencapai status ikonik layaknya Darth Vader dan Voldemort di era mereka masing-masing.

Namun, siapa yang ingat supervillain lain Marvel seperti Ronan the Accuser, Malekith, Kaecilius, Aldrich Killian, atau Mandarin? Mereka adalah supervillain utama di film mereka masing-masing, namun mereka segera lenyap dari ingatan kolektif pop-culture. NWH menghancurkan stereotype ini dengan, bukan satu, tapi lima supervillain bagus.
Pemenang nominasi Academy Award sebagai aktor terbaik Willem Defoe Kembali memerankan Norman Osborn dan alter ego-nya, Green Goblin. Ia Kembali di NWH dengan performa yang sepadan, bahkan bisa dibilang lebih baik, daripada performa ikonik-nya di Spider-Man (2002). Di NWH ia layak sekali lagi dipanggil nemesis—sang musuh utama—Spider-Man, sebuah prestasi yang hebat mengingat dia harus berkompetisi dengan lima supervillain lainnya.

Pemenang nominasi Emmy Award Alfred Molina kembali memerankan Doc Ock. Supervillain yang berasal dari Spider-Man 2 (2004) ini sering dijuluki sebagai supervillain paling simpatetik berkat pengorbanan-nya untuk menyelamatkan New York dan Spider-Man. Di NWH, Molina dengan jitu menangkap pesona supervillain simpatetik itu sekali lagi. Penggemar lama Spider-Man 2 akan menyukai NWH yang dermawan menyediakan banyak adegan Doc Ock.

Jamie Foxx kembali ke MCU setelah perannya sebagai Killmonger di film Black Panther (2018), kini sebagai karakter yang dimainkan-nya di TASM 2, Electro. Di film itu, Jamie Foxx banyak mendapat kritik karena gagal mengadaptasi karakter komik itu ke layar lebar. Namun ia kembali NWH dengan performa lebih kuat. Adalah suatu prestasi bahwa di film dengan 5 supervillains, setiap kali dia di layar kaca, dia mencuri perhatian penonton dengan karisma dan humour-nya.

Penonton yang berharap Green Goblin, Doc Ock, dan Electro akan menyukai film ini. Sayangnya, dua supervillain terakhir tidak sebaik mereka. Sandman dan Lizard adalah supervillain yang bagus di film mereka masing-masing (Spider-Man 3 dan TASM). Sayangnya, di NWH mereka mendapat sedikit waktu tayang. Masalah syuting menjadi alasan. Thomas Haden Church, pemeran Sandman, dan Rhys Ifans, pemeran Lizard, tidak mampu hadir secara fisik di studio untuk syuting.

Sebagai kompromi…

Artikel ini telah dibaca 93 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Metaverse Fenomena Hiperrealitas

24 Januari 2022 - 05:12 WIB

Shuma Gorath di Komik, Gargantos di Film, Kenapa Musuh Doctor Strange Berbeda Nama?

11 Januari 2022 - 10:35 WIB

Terkait Perannya di Spider-Man: No Way Home, Andrew Garfield Berbohong

10 Januari 2022 - 08:23 WIB

Mengenang Tjarda, Mengingat Kejatuhan Hindia Belanda

9 Januari 2022 - 17:39 WIB

Sains di Era Hawking

9 Januari 2022 - 14:59 WIB

Makmum 2: Terlalu Banyak Jumpscare

7 Januari 2022 - 13:05 WIB

Trending di Kempalanart