Selasa, 12 Mei 2026, pukul : 03:23 WIB
Surabaya
--°C

Agar Dapur Selalu Ngebul, Rief ‘Surealis’ Terima Order dari Semua Aliran Lukisan

KEMPALAN: Sebulan terakhir ini semangat kerja pelukis Syarif Hidayat makin menggebu-gebu. Ini lantaran lukisan realisnya makin diminati kolektor di Ibukota. Dalam sebulan, paling tidak 2 buah lukisannya beralih kepemilikan. “Saya terima apa pun aliran lukisan yang diorderkan,” kata Rief, panggilan akrabnya, Rabu malam (18/5).

Lelaki kelahiran Bandung 40 tahun yang lalu itu tidak membantah, bahwa sesungguhnya dia adalah pelukis beraliran surealis. Maka, tidak mengherankan jika dia menempatkan Salvador Dali sebagai pelukis idolanya.

Sebagaimana diketahui, Salvador Dali adalah pelukis surealis kelas dunia asal Spanyol yang melejit lewat lukisan ‘The Persistence of Memory‘. Namanya disejajarkan dengan pelukis surealis top Pablo Picasso, dan Rene Magritte.

“Dibutuhkan sebuah perenungan khusus untuk membuat lukisan surealis. Sehingga setiap lukisannya memiliki pesan tertentu yang disampaikan oleh pelukisnya,” papar warga Palihan Sidomulyo, Bambanglipuro, Kabupaten Bantul (Yogyakarta) itu.

Aliran surealis sendiri adalah gerakan budaya yang berkembang sejak pertengahan tahun 1920-an. Di dalam surealisme selalu ada unsur kejutan. Sebab, objek yang ditampilkan merupakan sesuatu yang tidak biasa, dan menggabungkan beberapa unsur yang saling tidak berkaitan, tanpa alasan yang jelas.

Namun saat ini ada sebuah alasan khusus bagi Rief untuk menerima semua order lukisan. “Dapur harus selalu ngebul untuk tetap menghidupi istri dan 3 orang anak,” jelasnya, sambil tertawa kecil.

Rief menyebut angka belasan juta rupiah untuk sebuah lukisan surealismenya. Untuk lukisan realisnya, Rief biasa mematok harga mulai Rp 2 juta. “Semua itu bergantung ukuran, dan faktor kesulitan objek lukisannya. Tetapi soal harga lukisan, bisa dirundingkan, kok,” ujarnya, serius.

Bagi Rief, apresiasi publik terhadap lukisan-lukisannya saat ini lebih dibutuh dibandingkan nilai rupiahnya. “Saya merasa lebih bahagia, jika lukisan-lukisan saya banyak diminati masyarakat luas. Bukan hanya orang-orang gedongan saja,” papar dia.

Sebab, lanjut Rief, banyak orang di kalangan menengah yang sesungguhnya ingin membeli lukisan untuk dipajang di rumah, kantor, maupun tempat usahanya. “Pokoknya soal harganya, bisa dirundingkan,” kata dia. “Saya harus realistis tentang hal ini,” sambung dia.

Rief (kanan) dan lukisan realisnya: ‘Burung’

Untuk menyelesaikan sebuah lukisan, Rief biasanya membutuhkan waktu 2-4 minggu.

Selalu Semangat
Dia memahami, bahwa kondisi bisnis lukisan di Indonesia mengalami penurunan yang cukup signifikan dalam belasan tahun terakhir ini. “Mungkin situasi tersebut juga dipengaruhi oleh situasi ekonomi dunia juga, ya,” duga Rief.

Walau begitu dia tidak pernah putus asa. Apalagi hal itu juga disebabkan keberaniannya untuk menggantungkan hidupnya sebagai pelukis profesional sejak 2006. “Mulai kelas 3 SD, saya sudah senang menggambar. Yang ada di benak saya setiap hari, ya hanya menggambar… menggambar…, dan menggambar saja,” kenang Rief.

Itulah sebabnya dia hanya punya ijazah SMP saja. “Saya malas meneruskan sekolah lagi. Jadi, setamat SMP pada 1997, saya membantu usaha orangtua di percetakan reklame,” cerita Rief.

Sekarang ini Rief baru menyadari, bahwa pendidikan formal sangat dibutuhkan oleh siapa pun untuk proses pengembangan diri. “Kalau dibilang menyesal karena hanya lulusan SMP, ya memang ada benarnya. Tetapi, saya juga tidak memaksakan diri untuk meneruskan pendidikan formal. Saya memilih untuk fokus mengembangkan talenta berkesenian saya saja,” jelasnya.

Rief juga rajin mengikuti beberapa pameran di dalam dan di luar Yogyakarta. “Saya selalu bersemangat penuh, jika berpameran. Lewat kegiatan tersebut, saya bisa mengukur sejauh mana kemampuan saya,” ungkapnya. (*)

Editor: DAD

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.