Komentar Lavrov ini memicu reaksi keras dari Ukraina dan Israel. Komentar itu dianggap sebagai upaya cuci tangan dari Rusia untuk mencari legitimasi serangannya atas Ukraina. Komentar yang berbau konspirasi itu dianggap sebagai upaya mendiskreditkan Israel dan upaya membebaskan pelaku holocaust dari tanggung jawab.
Selama ini, ada upaya untuk membangun opini bahwa serangan Rusia kepada Ukraina mempunyai motivasi anti-semitisme, anti-Yahudi. Rusia justru dituding sebagai kekuatan neo-nazi yang ingin menggulingkan pemerintah Volodymir Zelensky yang sah. Ukraina menempatkan diri sebagai negara kecil yang menghadapi invasi negara besar yang ingin mencaploknya.
Logika ini juga mendapatkan respons balik dari negara-negara Islam yang mempertanyakan reaksi dunia yang begitu cepat dan keras terhadap invasi Rusia terhadap Ukraina. Di sisi lain muncul pertanyaan mengapa dunia tidak memberikan reaksi yang sama terhadap invasi Israel yang dilakukan terhadap Palestina.
BACA JUGA: Mudik
Selama Ramadhan konflik Palestina mengalami eskalasi dengan terjadinya serangan tentara Israel terhadap orang-orang Palestina yang ingin melakukan shalat di Masjid Alaqsa. Bangsa Palestina ingin mengirim pesan kepada dunia mengenai ketidakadilan yang masih terus berlangsung di Palestina.
Di tengah gejolak perang Rusia vs Ukraina, dunia seolah lupa terhadap masalah Palestina yang sampai sekarang tetap menjadi pertanyaan yang tidak terjawab. ‘’The Question of Palestine’’ (1992) sebagaimana digaungkan oleh Edward Said sejak 30 tahun silam seolah menjadi teriakan dalam kegelapan yang tidak didengar oleh siapapun.
Seluruh kisah invasi Zionis ke Palestina dan proklamasi diri Israel pada 1948 kemudian berputar di sekitar konstruksi ideologis yang akan berputar pada isu penyangkalan terhadap keberadaan rakyat Palestina. Dalam pandangan para pemimpin utama Zionis penduduk asli benar-benar diabaikan, atau didiskreditkan sebagai orang barbar yang tidak beradab.
Itulh cara pandang khas kaum kolonial terhadap negara jajahannya. Kolonialis Inggris menganggap Australia sebagai ‘’terra nulius’’ wilayah kosong yang boleh dikuasai tanpa mengindahkan keberadaan suku asli Aborigin. Tanah Amerika dianggap sebagai wilayah kosong, dan penduduk Indian asli boleh saja dimusnahkan dengan berbagai kekejaman yang tidak kalah dari holocaust.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi