Kolonialisme Palestina terkait dengan gagasan bahwa tugas orang Yahudi adalah merebut wilayah terbelakang dan terpencil untuk membangunnya kembali dengan fondasi mereka, dan memodernkannya. Hal ini paralel dengan pandangan radikal tentang misi peradaban yang diemban orang Eropa ketika melakukan kolonisasi ke Afrika, Asia, dan bagian dunia yang lain.
Pendudukan Palestina adalah bagian dari ‘kolonialisme rekonstruksi’, yang berarti bahwa organisasi politik dan ekonomi Israel harus mengesampingkan kerja sama apa pun dengan penduduk pribumi, dan hanya menempatkan pribumi pada posisi subordinat dan budak. Israel secara eksklusif hanya akan terbuka untuk semua orang Yahudi dari seluruh dunia, dan hanya khusus untuk orang Yahudi.
Perjuangan besar pertama yang harus dilakukan oleh orang-orang Palestina–setelah berdirinya Israel pada 1948–adalah perjuangan melawan penghapusan sejarah total mereka. Tujuan utamanya adalah mengingatkan negara-negara Arab seperti Mesir, Yordania, dan Suriah, mengenai identitas kolektif mereka dan hak mereka untuk menentukan nasib sendiri.
BACA JUGA: Yaman
Pengingkaran terhadap kehadiran suatu bangsa di negeri yang akan diambil alih adalah ciri khas gerakan Zionis, karena gerakan ini terkait erat dengan kekuatan kolonialisme Eropa. Keterlibatan Inggris dalam pendirian negara Israel melalui Deklarasi Balfour membuktikan campur tangan kolonialisme Eropa terhadap penjajahan Palestina oleh gerakan Zionisme Yahudi.
Setelah lama mengincar Argentina, Afrika Selatan, atau Siprus sebagai pusat negara Yahudi, pilihan gerakan Zionis difokuskan pada Palestina, bukan karena alasan agama, tetapi karena keyakinan bahwa Palestina adalah sebuah tanah tanpa bangsa yang diperuntukkan bagi sebuah bangsa tanpa sebuah tanah.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi