Menu

Mode Gelap

kempalanalisis · 25 Apr 2022 08:00 WIB ·

Revolusi Kebudayaan dan Kerasnya Mao Zedong, Perbincangan dengan Abdullah Dahana


					Poster Revolusi Kebudayaan dengan ilustrasi Mao Zedong. (Wikipedia) Perbesar

Poster Revolusi Kebudayaan dengan ilustrasi Mao Zedong. (Wikipedia)

KEMPALAN: Pada suatu malam, saya berdiskusi dengan Profesor Sinologi Universitas Indonesia Abdullah Dahana mengenai Republik Rakyat Tiongkok. Pembahasan berkisar pada ketertarikan saya dengan negara tersebut pada masa Mao Zedong, sang paramount leader.

Rupanya, ada sisi lain dari Mao Zedong yang patut dilihat lebih jauh, bahwa Tiongkok tidak seindah yang kita kira di bawah kekuasaannya.

Berawal dari pertanyaan saya terkait pandangan alumni Universitas Cornell itu terhadap Presiden Liu Shaoqi.

“Liu itu seorang birokrat dengan temperamen normal. Karena itu Mao yang temperamen tinggi dan selalu omong revolusi gak suka dia. Liu termasuk orang pertama korban revolusi kebudayaan,” ujar Dahana.

Sayapun lanjut mempertanyakan alasan kenapa Mao tidak suka dengan para birokrat.

Prof Dahana mengatakan bahwa apa yang dipikirkan Mao hanyalah revolusi, kemurnian ideologi, dan terciptanya masyarakat komunis, karena itu, sejak 1949 sampai 1976, ketika Mao meninggal, yang terjadi di RRT adalah gerakan massa penuh dengan politik.

“Saya menyebut RRT pada masa Mao menganut azas politik sebagai panglima. Setelah Mao meninggal Deng Xiaoping mengubahnya menjadi ekonomi sebagai panglima,” tutur pria yang mendapatkan gelar doktornya di University of Hawaii at Manoa.

Sementara itu, Sinolog tersebut juga menyampaikan posisi Zhou Enlai yang sebenarnya mendukung para birokrat, namun lebih memilih untuk diam. Menurutnya, Mao tidak sempat mengeksekusi Perdana Menteri RRT itu karena sakit dan kemudian meninggal.

Adapun, Mao mengganyang semua orang yang tidak berpihak kepadanya, termasuk orang-orang yang netral. Dalam hal ini, bagi Dahana, mengeksekusi bukan dengan menghukum mati, tapi mengganyang dengan propaganda.

“Liu mati di penjara. Revolusi Kebudayaan makin dibikin ganas oleh kelompok empat (The Gang of Four) yang dipimpin istri Mao, Jiang Qing,” tuturnya.

Berkaitan dengan…

Artikel ini telah dibaca 106 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Surabaya Milik Kita, Ayo Kita Bantu Walikota

18 Mei 2022 - 21:54 WIB

Peci Terdakwa Disoal Jaksa Agung, sebagai Trik Kuno

18 Mei 2022 - 12:05 WIB

Arus Dukungan untuk Anies Cermin Kebangkitan Indonesia

18 Mei 2022 - 11:54 WIB

Anies Semakin Melejit

17 Mei 2022 - 08:41 WIB

Anies dan Titik Nol Indonesia

16 Mei 2022 - 14:11 WIB

Anies Hanya Kalah Kalau Gak Nyapres?

16 Mei 2022 - 12:35 WIB

Trending di kempalanalisis