Joko Widodo hampir mirip dengan SBY dalam hal latar belakang sosiologis sebagai manusia Jawa mataraman. Bedanya, SBY adalah tentara ksatria yang priyayi, Jokowi berlatar belakang pedagang, yang dalam strata sosial Jawa masuk dalam kategori kawula .
Dalam esainya “Raja, Priyayi, dan Kawula” Kuntowijoyo membagi strata sosial masyarakat Surakarta di abad ke-20 menjadi tiga kelompok: raja, priyayi, dan kawula.
BACA JUGA: Mlungsungi
Para pedagang dan saudagar masuk dalam kategori ketiga sehingga masyarakat agak meremehkan terhadap profesi pedagang maupun saudagar.
Bagi Jokowi latar belakang sebagai kawula justru menjadi kekuatannya. Ia secara sadar melancarkan jurus komunikasi politik sebagai representasi kawula, wong cilik, dengan memakai idiom-idiom rakyat dan berpenampilan merakyat.
Gaya komunikasi politik Jokowi yang humble, lembah manah, andap asor, dengan cepat menjadikannya idola yang melesat secara meteorik. Pada saat yang sama masyarakat mengalami disilusi dan kejenuhan terhadap kekuasaan yang pongah dan bossy, sok ngebos.
Jokowi menjadi antitesis kekuasaan yang selama ini dipersepsikan sebagai wahyu kedaton yang turun dari langit. Jokowi mendekonstruksi semua stereo-type kekuasaan Jawa yang serba jaim, jaga image dan penuh unggah-ungguh yang membosankan.
BACA JUGA: Semangat AA
Dalam khazanah Babad Tanah Jawi Jokowi mungkin mirip Kiageng Pengging, sama-sama dari Boyolali, yang berhasil memindah episentrum kekuasaan dari Demak yang pesisir ke Pajang yang agraris. Itulah yang coba dilakukan oleh Jokowi dengan memindah episentrum kekuasaan dari tanah Jawa ke Kalimantan, dari Jakarta ke Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kutai Kertanegara.
Para presiden terdahulu adalah para penguasa Jawa, raja-raja Jawa yang berparadigma Jawa-sentris, Jawa sebagai episentrum kekuasaan. Jokowi mendekonstruksi paradigma itu.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi