Lamun sira pinter aja minteri, lamun sira banter aja ndisiki. Kepada siapa pernyataan itu paling tepat ditujukan oleh Jokowi? Dalam kondisi krisis sekarang ini pernyataan itu, mungkin, cocok ditujukan kepada para haters dan oposisi yang “banter” dan “pinter”, atau kepada para pengritiknya yang terlalu “banter” dan “pinter”.
John Pamberton dan Ben Anderson yang banyak melakukan riset mengenai konsep kekuasaan Jawa menyatakan raja tidak boleh salah, idu geni, ludah api, sabda pandita ratu, ucapannya adalah sabda yang menjadi hukum, sabda raja adalah sabda Tuhan. Pantang malu, pantang mengingkari sabdanya. Karena itu ia harus didengar dan tak boleh dibantah.
BACA JUGA: Face Recognition
Jokowi Raja Pasca-Jawa atau Little Soeharto? Itulah pertanyaan yang coba dikulik beberapa ilmuwan politik untuk memperbandingkan Jokowi dengan Soeharto. Pada masa awal-awal berkuasa Soeharto seorang demokrat. Tapi, seiring dengan perjalanan waktu ia mengkonsolidasi kekuasaan otoritarian dan membangun dinasti.
Periode pertama Jokowi mirip seperti itu. Masa kekuasaan periode kedua konsolidasi kekuasaan dilakukan secara intensif. Oposisi nyaris tak ada lagi, semua keputusan diambil tanpa perlawanan berarti, mulai dari revisi UU KPK, Omnibus Law, UU Minerba.
BACA JUGA: Harvey
Sekarang muncul wacana untuk memperpanjang jabatan kepresidenan menjadi tiga periode. Jokowi menghadapi dilema. Ia belum tegas menolak, tetapi penolakan dari sejumlah kalangan sudah bermunculan. Berbagai demonstrasi mendesaknya untuk tegas menolak. Sebagian menuntutnya mundur karena dianggap gagal menyelesaikan krisis minyak goreng dan tidak kompeten dalam mengelola ekonomi.
Sang raja sedang menghadapi dilema. Ia sedang dikelilingi oleh para pembisik dengan berbagai kepentingan. Raja telanjang pun oleh pembisik dibilang berbusana bagus, sampai akhirnya sang raja dipermalukan di tengah jalan. (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi