Sabtu, 18 April 2026, pukul : 07:01 WIB
Surabaya
--°C

Lengser

KEMPALAN: PRESIDEN Jokowi hampir tidak pernah mengutip filosofi kekuasaan Jawa dalam komunikasi politiknya. Tapi, beberapa saat setelah pelantikannya sebagai presiden periode kedua Juli 2019 lalu, Jokowi mengutip tiga butir filosofi kekuasaan Jawa Lamun sira sekti aja mateni, lamun sira banter aja ndisiki, lamun sira pinter aja minteri. Artinya, “Kalau kamu perkasa jangan membunuh, kalau kamu kencang jangan mendahului, kalau kamu pintar jangan memintari.”

Presiden Soeharto dikenal sangat lekat tradisi filsafat Jawa. Semua keputusan strategis Pak Harto didasarkan pada kepercayaannya kepada filosofi Jawa. Dalam biografi ‘’Soeharto:  Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya’’ (1989) Soeharto mengungkap filosofi hidup dan pandangan politiknya dalam perspektif filsafat Jawa.

Pemikiran Soeharto banyak memengaruhi lanskap politik Indonesia selama 3 dasawarsa. Banyak terminologi Jawa yang kemudian diserap menjadi terminologi politik Indonesia. Ketika Soeharto mengundurkan diri pada 1998 ia memakai idiom filsafat Jawa ‘’lengser keprabon madeg pandito’’, bergerser dari kekuasaan dan menjadi bapak bangsa. Terminologi ‘’lengser’’ kemudian populer sampai sekarang.

Dalam demonstrasi 21 April 2022 di Jakarta, sekelompok emak-emak yang tergabung dalam ‘’Aliansi Rakyat Menggugat’’ meneriakkan tuntutan agar Presiden Jokowi mengundurkan diri. Salah seorang jurubicara emak-emak itu memakai istilah ‘’lengser’’ untuk menggambarkan pengunduran diri Jokowi. Si emak juga membandingkan dengan lengsernya Pak Harto dan meminta Jokowi mengukuti langkah Pak Harto untuk lengser keprabon.

BACA JUGA: Bapak Tiga Periode

Di antara tujuh presiden Indonesia hanya Soeharto yang secara rutin mengutip falsafah Jawa sebagai falsafah politik dan pemerintahannya. “Presiden Jawa” lainnya nyaris tak pernah mengutip falsafah Jawa. Bung Karno lebih asyik dengan referensi pemikir-pemikir dunia, baik dari Barat, Timur, dan pemikiran-pemikiran klasik Yunani dan lainnya.

Sepeninggal Pak Harto, Presiden Gus Dur lebih identik dengan budaya dan khazanah pemikiran pesantren dalam kutipan-kutipannya. Sebagaimana Bung Karno, Gus Dur mempunyai referensi filsafat politik yang sangat kaya, dan karenanya dia tidak secara spesifik merujuk pada filsafat Jawa dalam pidato-pidatonya.

Di era Megawati kita tidak terlalu sering mendengar ide-idenya mengenai filsafat politik selain kosa-kata Jawa yang diulang-ulang di berbagai kesempatan, yaitu “wong cilik”. Selebihnya kita tidak pernah mendengar apa pun.

BACA JUGA: Cak Imin

Habibie berusaha melakukan emulasi dalam beberapa filosofi Pak Harto yang menjadi mentornya. Tapi, Habibie adalah mesin made in Germany yang sophisticated dan serba mekanik-positivistik, mangkus dan sangkil, efektif-efisien.

Tak cocok dengan filosofi kekuasaan Jawa, kekuasaan Habibie hanya seumur jagung dan berakhir karena kudeta politik orang-orang sekitarnya di Partai Golkar.

Susilo Bambang Yudhoyono seharusnya paling Jawa dibanding tiga pendahulunya pasca-Soeharto. Tapi, meskipun dalam solah bawa, tingkah laku, SBY adalah seorang ksatria Jawa, tapi dia adalah jenderal didikan Amerika yang berpikiran demokratis global. Dia berperilaku Jawa tapi berpikir global.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.