Dalam dokumen Nawa Cita, sembilan prioritas pembangunan disebutkan “Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.”
Dalam berbagai kesempatan Jokowi memakai pakaian tradisional dari berbagai daerah. Ia mengadakan acara-acara kenegaraan nasional keluar dari Jakarta ke daerah-daerah. Membangun infrastruktur di luar Jawa untuk membangun konektivitas menjadi obsesinya.
Jokowi adalah penguasa pasca-Jawa. Dialah Raja Pasca-Jawa yang mendekonstruksi semua paradigma kekuasaan lama sejak Soekarno. Itu pulalah yang membuat Jokowi menjaga jarak dari penggunaan idiom-idiom filsafat Jawa dalam komunikasi politiknya.
BACA JUGA: Masinton dan Brutus
Tentu saja Jokowi tetap manusia Jawa dalam kehidupan personal. Ia menjalankan praktik-praktik Jawa seperti puasa untuk tirakat dan memilih hari baik dan buruk. Ia bukan intelektual yang beroleh ilmu ta’limiyat dari sekolahan, ia memperoleh pengetahuan dan ngelmu laduniyah lewat tirakat dan laku. Ia menjauhi pantangan-pantangan dan menghindari tabu.
Suatu ketika Mensesneg Pramono Anung meminta Pesiden Jokowi untuk tidak berkunjung ke Kediri karena adanya mitos presiden yang berkunjung ke Kediri akan kehilangan kekuasaannya. Soekarno, Gus Dur, Habibie tak percaya mitos itu. Pak Harto memilih tidak mengunjungi Kediri selama kekuasaannya. SBY mengunjungi Kediri sebagai pribadi didampingi Hamengku Buwono X sebagai raja Jawa yang asli.
Ketika ibundanya Sudjiatmi Notomihardjo meninggal dunia akhir Maret lalu Jokowi melakukan brobosan, berjalan melewati bawah keranda jenazah ibunda, sebuah ritual khas Jawa. Jokowi disebut kehilangan pepunden yang menjadi inspirasi kekuatan politiknya sebagaimana Pak Harto kehilangan Bu Tien pada 1996, dan SBY kehilangan Ny Ani Yudhoyono, 2019.
BACA JUGA: Masinton dan Brutus
Pernyataan lamun sira sekti memunculkan berbagai tafsir politik, karena pernyataan itu “sangat Jawa”. Apakah Jokowi masih terap memersepsikan diri sebagai Raja Pasca-Jawa pada periode kedua kekuasaannya sekarang, ataukah dia sudah berani membuka jati diri sebagai Raja Jawa sebagaimana para pendahulunya?
Tidak ada konsep oposisi dalam filosofi kekuasaan Jawa. Karena itu meskipun menjadi sakti karena menang perang dia tidak mateni, tidak membunuh. Maka Prabowo pun tidak dipateni, malah dirangkul dan dipangku.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi