KEMPALAN: Kalau berbicara mengenai AA sebaiknya berhati-hati, karena sekarang lagi ada yang sensi dan mengancam akan lebih gila lagi dari sebelumnya. Tapi, AA yang ini tidak ada hubungan dengan AA yang itu. AA yang ini adalah ‘’Asia Afrika’’, tepatnya Konferensi Asia-Afrika, the one and only, satu-satunya yang pernah dilakukan di Bandung 18 April 1955.
Sejarah biasanya berulang. Tapi, kali ini sejarah konferensi AA tidak pernah terulang. Meski demikian, sejarah ini ditorehkan dengan tinta emas untuk menghormati peran Indonesia yang sangat penting dalam konstelasi geo-politik internasional. Ketika itu sedang menghadapi krisis bipolar, perang dingin antara blok kapitalis Amerika vs blok komunis Uni Soviet, dan Indonesia tampil ke permukaan memberi gerakan alternatif.
Setelah Perang Dunia Kedua berakhir, negara-negara pemenang berebut ghanimah atau harta rampasan, memperebutkan negara-negara lain untuk masuk ke dalam blok para pemenang. Amerika membuat blok dengan menguasai negara-negara di Eropa Barat plus beberapa negara berbahasa Inggris. Uni Soviet membuat blok dengan menguasai negara-negara di Eropa Timur.
Persaingan dua blok ini meluas ke seluruh dunia sampai ke Asia dan Afrika. Perebutan pengaruh itu membuat negara-negara terhimpit dalam perang antar gajah yang bisa menginjak-injak pelanduk yang tidak berdaya.
BACA JUGA: Mlungsungi
Bung Karno mengajukan gagasan brilian untuk menghindari dominasi dua blok raksasa itu. Bung Karno mengajak negara-negara yang baru merdeka di wilayah Asia dan Afrika untuk tidak ikut-ikutan bergabung dalam dua blok baru itu.
Negara-negara Asia-Afrika itu menjadi kekuatan baru yang sangat signifikan. Mereka kemudian menyebut dirinya sebagai ‘’non-blok’’, meskipun pada kenyataannya mereka adalah sebuah blok baru. Negara-negara non-blok ini terdiri atas negara-negara dengan penduduk besar dan mempunyai pemimpin perjuangan kaliber kelas berat dunia.
India mempunyai Jawahral Nehru, Mesir punya Gamal Abdul Naser, Indonesia mempunyai Soekarno yang sangat disegani. Ketika kemudian mereka sepakat untuk berkumpul di Bandung, jumlahnya mencapai 29 negara. Jumlah ini berarti separo dari jumlah anggota PBB (Persatuan Bangsa-Bangsa) yang didirikan Amerika dan para pemenang perang pada 1945 dengan anggota 51 negara.
BACA JUGA: Masinton dan Brutus
Konferensi AA melahirkan 10 kesepakatan yang disebut sebagai ‘’Dasasila Bandung’’, yang secara implisit berisi perlawanan terhadap hegemoni dan dominasi Amerika dan Uni Soviet. Presiden Soekarno, tak pelak, menjadi tokoh utama di balik gerakan itu.
Negara-negara AA ini kemudian bergabung dalam gerakan negara Non-Blok yang diprakarsai oleh pemimpin Yugoslavia Josip Bros Tito, Gamal Abdul Nasser, dan Jawahral Nehru yang mengadakan konferensi Non-Blok di Beograd pada 1961.
Bergabungnya Yugoslavia dalam gerakan ini semakin membuat gatal Amerika dan Uni Soviet karena secara geografis Yugoslavia berada di Eropa Timur yang menjadi wilayah kekuasaan Uni Soviet.
Di dalam negara-negara non-blok itu bergabung juga Kuba di bawah kepemimpinan Fidel Castro yang sangat dibenci Amerika. Tiga serangkai Tito, Castro, dan Bung Karno adalah tokoh-tokoh yang ditakuti Amerika dan Uni Soviet, ditambah dengan Mesir dan India, kekuatan non-blok benar-benar menakutkan bagi Amerika dan Soviet.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi