Minggu, 10 Mei 2026, pukul : 05:58 WIB
Surabaya
--°C

Madrasah

Dengan semangat nasionalisme religius itulah K.H Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Para santri dari berbagai daerah di Jawa Timur kemudian berbondong-bondong bergerak ke Surabaya menjadi milisi yang fanatik melawan pasukan Belanda yang ingin kembali menjajah.

Penjajahan kolonialisme akhirnya bisa disingkirkan. Tetapi, penjajahan ideologis masih dirasakan oleh kalangan umat Islam sampai sekarang. Hegemoni ideologis muncul dalam bentuk neo-imperialisme dan neo-liberalisme yang semakin kuat.

BACA JUGA: Jokowi dan Alim Markus

Imperialisme model lama didasari oleh semangat ‘’gold, glory, gospel’’, yaitu  kepentingan penguasaan sumberdaya ekonomi, kepentingan kekuasaan politik, dan kepentingan misi Kristiani.  Misi terakhir ini dianggap sebagai pendompleng dalam kekuatan imperialisme. Karena itulah perang kemerdekaan oleh para pemimpin Islam disebut sebagai ‘’Perang Sabil’’ atau jihad fi sabilillah melawan kekuatan kafir.

Madrasah dan pesantren menjadi bagian tidak terpisahkan dari sejarah panjang perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Upaya untuk meminggirkan atau memarjinalkan peran madrasah dalam sejarah bangsa akan memunculkan perlawanan yang keras dari kalangan Islam.

Nadiem Makarim tidak mempertimbangkan pemahaman sejarah yang komprehensif ketika menyusun rancangan undang-undang pendidikan yang baru. Terlihat ada upaya memisahkan pendidikan agama dari sistem pendidikan nasional, dan hal ini dianggap sebagai sikap yang ahistoris, tidak memahami sejarah.

Rancangan undang-undang ini akan memantik luka lama dan memunculkan semangat lama untuk menentang penjajahan baru dalam bentuk liberalisme dan sekularisme.

Mas Menteri harus banyak belajar sejarah. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.